Jumat, 10 Mei 2013

Panggung Kehidupan di Panggung SO7

    Sabtu, 27 April 2013
 
         Tau Sheila On Seven  (SO7) bakalan konser di UI, aku dan beberapa teman dekatku semangat banget pengen ikutan acara konsernya. Lebih jelasnya, maksud aku ikutan nonton, (*Ga mungkin ikutan nyanyi, meski ngarep gila :p) Sangking bersemangatnya sampai-sampai aku pikir konsernya, Jumat 19 April, heheee, udah tukaran shift buat kerja di perpustakaan ternyata aku malah salah tanggal.Ternyata baru tanggal 26 April kemarin. Untungnya hari ini aku malah  malah libur full, soalnya udah ngegantiin teman di shift-shift sebelumnya untuk kerja di perpustakaan. Nonton konser SO7 Yeeiiii!!! Ini bakalan jadi hiburan banget. Buat aku band satu ini memang legendaris banget, aku suka hampir semua lagu-lagunya. Bahasanya sederhana, realistis dan  menyentuh banget dan nggak berlebihan.
    Konsernya dimulai pukul 20.00, jadi jam 19.00 aku dan Arini berangkat dari kosan, sampai di FIB, kita udah muter-muter nyari ‘jalan pintas’ ke tempat konsernya, biar nggak usah ribet dan ngantri lama , tapi panitianya oke banget lagi, malah mereka mensterilkan spot-spot dan harus masuk melalui pintu utama, tempat mereka juga melakukan pemeriksaan tiket. Oiya, konser SO7 ini mahasiswa banget! Tiketnya Rp 20,000 dan malam itu rame banget. Aku dan teman-teman dekatku punya enam tiket, tapi dua orang teman ternyata nggak jadi ikutan nonton, akhirnya kita punya dua tiket tak bertuan dan yang punya sudah mengikhlaskan. Daripada nggak berubah jadi uang, so kita sepakat untuk mencari teman yang mau beli tiketnya. Arini sibuk mengirimkan bbm kepada teman-temannya, tapi fail. So, kita sebenarnya sudah pasrah aja, ya sudahlah. Kiki, Fitri, Arini dan aku pun berjalan menuju tempat konser. Tapi sebelumnya, ke toilet dulu. Setelah jalan dari arah toilet, ada seorang cowok yang tiba-tiba berbicara kepadaku.“Mbak, kalau mau beli tiketnya on the spot dimana ya?”. Dan aku langsung berpikir kalau kita bisa jual satu tiket kepada si cowok ini. Dan aku langsung memanggil Fitri.“Daq, gimana kalau tiketnya kita kasih yang punya kita aja?”Insting caloku tiba-tiba muncul. Kita menjelaskan kepada si cowok itu kalau kita punya dua tiket lagi. Fitri pun bilang si cowok itu ikutan sama kita sampai ke depan penukaran tiket, dan si cowok ini setuju. Tiba-tiba, aku dan Kiki merasa curiga, “Heh! Ada orang yang datang nonton konser sendirian, gila aja,niat banget!”, atau sebenarnya cowok ini punya maksud lain-lain”, aku dan Kiki mulai berspekulasi, sementara Fitri dan Arini terus berjalan di depan kami bersama cowok tersebut. Aku dan Kiki mengambil posisi di belakang untuk mengawasi.
    Di depan tempat masuk, panitianya udah berjaga-jaga. Panitia meminta para penonton untuk baris dibagi dua. Orang yang mau beli tiket on the spot di sebelah kiri dan panitia menjual tiket konser seharga Rp 25,000 dan orang  yang udah punya tiket di sebelah kanan.Fitri mengurusi penukaran tiket di depan , sementara aku dan Kiki,  ke barisan orang-orang yang belum punya tiket. Kita sok melakukan observasi kepada orang-orang yang berbaris dan kelihatan ada cowok yang sendiri mau nonton konser ini. Kita melihat kalau dia nggak ngomong sama orang di belakang atau pun di depannya. Orang di dan di belakang si cowok ini juga sepertinya sibuk sendiri, jadinya kita berpikir kalau si cowok ini nonton konser sendirian.Dengan nggak tau malunya dan demi tiket yang berubah menjadi uang, kita pun langsung bertanya, “Mas, Mas belum punya tiket ya? Sendiri  kan Mas?”, Muka cowok itu bingung-bingung dan sedikit ketakutan juga, HAHAHAA, aku pun tertawa melihat ekspresi cowok itu. Nggak sopan, memang, tapi ya aku merasa lucu aja. Sadar kalau dia kebingungan, aku menjelaskan kalau kita punya tiket satu lagi yang lebih dan Masnya bayar 20,000 saja. Cowok ini nggak menjawab malah berdiri dan kebingungan “Iya Mas beneran! Ikut kita aja k barisan sebelah” Kiki menjelaskan. Akhirnya cowok itu mau ikut dan membeli tiket dari kita.Dia beli, bilang makasih lalu pergi entah kemana. Cowok yang pertama ketemu juga pergi. Tapi yang penting dua tiket sudah berubah menjadi uang Rp 40,000 dan itu artinya  kita bisa minum teh botol grati setelah selesai menonton. Hehehee *Prinsip anak kos
    Sebelum SO7 tampil, performance di buka oleh Band FIB ( nama bandnya Hamba Allah) menurutku  mereka aneh-aneh dalam lingkaran orang-orang pada umumnya, lumayan norak tapi kreatif parah, itu seperti standup comedy pake iringan musik, heheee. Meskipun awalnya berpikir, kalau acara konser itu bakalan langsung dimulai oleh SO7, tetapi penampilan grup band ini sangat menghibur juga, ditambah bercandaan mereka yang konyol. Aku suka hampir semua bercandaan mereka kecuali, saat mereka menyinggung masalah tugas akhir. Huh, itu serasa bikin nyesal udah datang nonton konser dan pengen segera bertobat dan menghampiri bahan skripsi yang ditinggal merana di kosan. Hehehe. O iya, MC acara ini berpasangan. Cewek aku nggak tau siapa, tapi yang cowok aku tau, namanya Diego Christian. “Ohhh, jadi Diego juga bisa jadi MC ya, hebat!” komentarku dalam hati. Sebelumnya, aku udah pernah ketemu Diego Christian dalam sebuah seminar menulis dan dia jadi pembicaranya dong.


    Selesasi Hamba Allah tampil, MC masuk ke panggung dan memberikan beberapa pengumuman kejuaraan yang merupakan bagian dari acara itu juga. Aku, Fitri, Kiki, memilih duduk, sementara Arini mengipasi kita dari atas. Soalnya kaki udah pegal berdiri, dan mereka juga mengumukan nama-nama yang aku juga nggak tau siapa, jadi kita duduk dan memulai percakapan konyol. “Eh, gimana ya, kalau SO7nya nggak beneran datang? Terus tiba-tiba MCnya bilang, Selamat kalian semua kena super trap!!!”Iseng-iseng juga mengobservasi orang-orang di sekeliling kita, yaaaaah lumayan buat obat mata, hehee :p, “Benerkan, aku bilang, si Duta aja mungkin masih di rumahnya golek-golek.” Komentarku.
    “Kita akan Melompat lebih tinggi bersama SO7, dengan tampilnya SO7, kami juga mengundurkan diri, dan kita bertiga langsung berdiri. Group SO7 naik ke atas panggung diiringi musik dan teriakan-teriakan brutal dari kita. “Dutaaaaaa!!!! Erooooosss!!! Briaaaaan!! Adaaaaaam!! Orang-orang meneriakkan nama-nama mereka. Konser pun dimulai, dan itu rasanya seperti karaokean bareng penyanyi aslinya, bisa berteriak sesuka hati, dan mungkin posisiku juga beruntung banget di samping orang-orang yang nggak kalah histerisnya dengan kami, so nggak ada yang merasa terganggu, heheee. Berkali-kali, Duta sang vokalis bilang terima kasih dan dia merasa terharu karena rata-rata yang datang pada hapal lirik lagu-lagu mereka padahal udah dari album yang lama banget. Saat musik dihentikan dan diberi kesempatan nyanyi buat yang nonton, suara pun kelihatan kompak banget. Aku , Fitri, Kiki, bernyanyi sekencang-kencangnya dan tertawa menyadari betapa brutalnya kita malam ini, tapi ah, bodo amatlah! Seandainya mamaku tau aku sebegininya disini, ampun Inong!! :p
    Aku juga melihat cowok yang aku lihat sebelum SO7 tampil, tadinya dia kelihatan kalem banget dan setelah nyanyi bareng, dia loncat-loncat, teriak-teriak dan kebrutalan kita imbang juga ternyata, heheee. Di atas panggung ada banyak cerita. Ada orang yang mengasah bakatnya menulis dan menjadi MC, itu Diego. Ada yang mengekspresikan diri dengan kekonyolan yang kreatif banget dan bakat musik mereka, itu Hamba Allah. Ada SO7 dengan kepolosan mereka, cuma pake kaos tapi ASLI musik mereka itu menghibur dan oke banget. Bagaimana band yang udah lama ini, bisa tetap eksis sampai sekarang. Di bawah panggung juga banyak cerita. Orang-orang yang menghentikan bermacam-macam kesibukannya sementara untuk menikmati konser ini. Lagu yang sama diekspresikan dengan cara berbeda-beda oleh setiap orang, Ada yang nyanyi penuh penghayatan banget ada yang nyanyi sambil loncat-loncat brutal :D Manusia memang hidup dengan karakteristik dan kenunikannya masing-masing. Mungkin akan ada saatnya dalam hidup ini, ketika kita nggak pengen menjadi seperti orang lain, ada satu titik dalam kehidupan kita, kita bisa benar-benar bilang, thanks God for creating me as i am. :”) God is really good always . Karena memang nggak ada yang bisa mirip dengan orang lain, setiap orang memiliki keunikannya sendiri-sendiri, saat berharap diri menjadi seperti orang lain, itu mungkin adalah suatu kesalahan. Kadang berharap menjadi seorang cewek yang lebih anggun, kadang berharap punya bakat musik atau bakat yang lain. Orang yang mengekspresikan diri, orang menikmati dan menjalani hidup dengan cara mereka masing-masing.  :”)