Sebenarnya tampang kalian bisa dibawa kok,
cuma kelakuan yang kalian yang bikin cowok ilfil! Tono tetangga kosan kami
komentar saat aku makan di warung deket kosan mereka, ya kami tetanggaan. “Kok
perhatian banget?” Aku senyum-senyum sok manis. “Bukannya perhatian, ketawa
kalian aja ya bisa terdengar sampe kosan kami.” Trus denger jawabannya langsung
sok sibuk makan, soalnya aku udah nggak ada argumen, bener kata dia. Di jalan
mau pulang ke kosan, aku liat bangunan kos orange itu, namanya Villa Putri,
terdiri dari dua lantai dengan masing-masing empat kamar. Di lantai atas mulai
dari ujung kiri, ada kamar Nana, Barbie, Ria, dan kamarku. Sementara empat kamar
di lantai bawah adalah kamar Putri, Mas Levis maksudku mas tukang jahit, Ita,
dan si Bapak (sebutan kami untuk bapak yang buka warung disitu). Sebenarnya
kami termasuk anak kos yang beruntung banget karena harga jualan si Bapak,
apalagi cemilan, susu, yakult, seringkali lebih murah dibandingkan Indomaret di
pinggir jalan yang dekat dengan kosan kami. Di pinggir jalan juga ada Mas tukang
bubur ayam plus indomie yang resmi menjadi langganan kami. Kita memang butuh
langganan biar bisa ngutang. Setiap kamar punya jendela yang menghadap ke
jalan. Jadi sirkulasi udara memang sangat bagus, dan kalau misalnya lagi galau
bisa duduk di atas tempat tidur dan memandangi jalan lewat jendela. Selesai
makan aku mau balik lagi ke kosan dan mendengar suara tawa mereka dari kamar
Nana, “Woi, pada mau nitip nggak?”, aku berteriak sebelum naik ke atas. Dan
disambut juga dengan teriakan dari atas, “Teh botol, yakult”dan macem-macem titipan
mereka. Nggak cuma ketawanya yang nyeremin, porsi makannya juga, aku menambahkan
pendapat Tono barusan dalam hati. Aku naik ke lantai atas dengan sekantong
cemilan dan tiga botol teh botol, biasanya kita beli yang kotak soalnya nggak
ribet balikin botolnya, tapi kali ini memang lagi kurang beruntung karena yang
kotak habis.
Naik ke lantai dua aku langsung menuju
kamar Nana. Kita milih kamar Nana karena paling dekat dengan tangga dan dia
punya speaker yang gede banget. Jadi kalo misalnya dia bikin setengah aja
volumenya itu bisa menghibur satu RW, mungkin kalau kami beneran bokek,
barangkali akan membuka penyewaan speaker untuk musik acara ulang tahun, ya
kali aja ada yang butuh. Aku juga sebenarnya nggak paham buat apa Nana beli
speaker segitu gedenya, sementara meja belajar rusak aja dia nggak beli yang
baru. Dia baca buku pake kardus sepatu ditaruh di atas paha atau tempat tidur,
alasannya lebih ringan. Aku ikut-ikutan, dan merasa belajar kardus sepatu yang
disulap menjadi meja belajar itu keren. Meja belajarku di kamar pun resmi
menjadi pajangan, demi harga diri biar dikirain rajin belajar. Di kamar Nana,
kita stel musik, karokean gratis dan selesai
minum kami meletakkan botolnya di sudut dekat tangga.
Waktu itu masa-masa bulan puasa jadi abang
dan kakakku datang dari Jogja, abang jadi tour guidenya kakak yang sedang
jalan-jalan, Kak Eva nama kakakku. Kakak balik ke Medan sementara abang masih
stay di kosan. Bang Lambok, abangku resmi membajak kamarku, jadi aku mengungsi
tidur di kamar Nana. Aku memang harus buru-buru packing barang-barang karena
lusa akan dikirim ke Jogja dengan jasa kargo kereta api. Tadinya, aku mau
langsung kuliah lagi di UGM, kalau keterima. Menurutku kamar itu ajaib deh,
keliatannya aja kecil, udah barang-barang pada mau dipacking, tiba-tiba aja
jadi banyak, padahal aku baru punya dua kardus, jadi aku nyusun buku-buku dulu
ke dalam kardus itu, waktu bongkar-bongkar, baca-baca dulu sebentar, terus
masukin sambil denger musik kesukaan dengan headset, ya gitu terus sampai
kardusnya juga nggak penuh-penuh setelah nyadar udah pukul 03.00, sementara
Bang Lambok udah tidur nyenyak di atas tempat tidur walaupun situasi di bawah
tempat tidur kacau karena buku-buku yang masih berantakan,buru-buru ku rapikan
dan akhirnya dua kardus kosong itu sudah terisi dan hanya muat beberapa buku.
Sebenarnya aku juga udah usaha banget nyari-nyari kardus kemana-mana, tapi
dasar nasib nggak baik, Si Bapak bilang baru aja dijual, di Indomaret deket
jalan juga kardusnya baru aja dikumpulin ke pusat dan kalau minta ke Mas yang
jualan Indomie, ya pasti yang ada juga kardus indomie aja kan, maksud ku itu
kekecilan.
Semua warga kosan udah pada tidur
sepertinya, soalnya kosan udah tenang, aku pun beranjak ke kamar Nana, nyeker,
padahal sendal juga di depan pintu kamar. Persis di depan pintu kamar Nana aku memijak
sesuatu, dan langsung nancep ke kakiku. Aku pengen narik, tapi nggak kelihatan
jelas, itu apaan. Aku memagang HP bersenter dan mengarahkan ke kakiku, eh
ternyata beling yang besar. Dan darah dari kakiku udah menetes. Aku kaget
ngeliat darahnya, sampai nggak merasa sakitnya. Botol tadi siang, mungkin jatuh
karena kucing sering bertamu ke tong sampah dekat tangga. Dasar kucing,
ngejatuhin botol bukannya dirapiin. Bikin pecah botol bukannya dibersihin. Aku
panik karena kaki udah bersimbah darah, udah mirip pembunuhan di tv. Aku jalan
dengan terpincang-pincang menuju kamarku dan langsung ke kamar mandi, membuka
kran, dan karena aku berisik, Bang Lambok terbangun, “Dek, ngapain? kenapa?”,
“Kakiku kena beling.” Suaraku udah seperti teriakan. Bang Lambok langsung ke
kamar mandi dan lihat, dia nyuruh aku duduk di atas kasur dan melap kakiku.
Katanya luka kakiku besar. Aku nggak berani lihat. Dia membungkus kakiku dengan
kain dan membersihkan beling di depan kamar Nana, dan juga darah kakiku yang udah
kemana-mana.
“Memang kenapa nggak pake sendal, padahal
sendalmu di depan kamar.” Bang Lambok menatapku meminta penjelasan. “Buru-buru
karena ngantuk Bang. Orang udah kesakitan juga, ngapain abang marah-marahin
lagi.” Aku juga sebenarnya tau yang ku ajukan bukan pertanyaan. “Selagi kau
rasakan efek nggak hati-hati Dek!” Jelasnya, dan aku pun pasrah untuk
mendengarkan kata-kata Bang Lambok. Pukul 07.00 kami langsung pergi ke klinik, disana
mereka membersihkan kakiku dengan cairan alkohol dan mengikat dengan kain kasa.
Setelah itu kita balik ke kosan. Kami mulai lagi mempacking barang-barang, tapi
karena belum ada kardus jadi hanya dikelompok-kelompokkan dulu aja. Malamnya,
aku dan Nana pergi ke kosan Gerrard, adek Nana untuk mengambil barang-barang
jualan kak Eva yang kami titip. Kak Eva punya usaha jualan kecil-kecilan di
kampung. Sebenarnya itu udah hampir pukul 23.00, untung aja kosan Gerrard belum
ditutup. Aku cerita ke Nana kalau aku belum punya kardus, padahal besok sore
barang-barangku harus udah diantar ke kargo kereta. “Nggak usah khawatir, kita
cari!” Nana menanggapi denga santai. “Cari kemana Na, udah jam segini.”
Bantahku karena nggak yakin. “Masih banyak tempat makan yang buka.”Jawab Nana.
Kami membawa barang-barang ATK dari kosan Gerrard di dalam kantong kresek hitam
yang besar, masing-masing memegang satu kantong. Rambut kita berantakan, pake
kaos, celana pendek dan sendal jepit yang nggak bersih-bersih amat melengkapi
penampilan kita yang menyedihkan, tapi memang penampilan kita kalau nggak
kemana-mana yang begini sih.
Lawson masih buka, kita pun masuk,
menanyakan mereka punya kardus kosong apa nggak, dan menambahkan kalo kita beli
juga nggak apa-apa, hasilnya nihil. Karyawan di sana udah kenal sama kita
karena hampir tiap hari kesana, dan kita malah menamai Lawson, kantin. Makanan
dan minuman disana nggak begitu mahal, ditambah free wifi. Di sebelahnya ada
Warung Pasta dan tempat makan pinggir jalan dengan harga yang nggak bersahabat
dengan kantong mahasiswa pas-pasan seperti kami. Kita masuk ke Warung Pasta
dengan tujuan yang sama. Karyawannya memandangi kita dengan tatapan kasihan, “Sebentar
ya ada sih beberapa, mau buat alas tidur ya Mba?” Kata salah seorang dari
mereka, padahal biasanya kalau siang-siang kita nongkrong kesana, mereka nggak
seperhatian itu tuh. Penampilan memang sangat berpengaruh ya. Aku mau tertawa,
tapi memang melihat penampilan kita dan juga kantong kresek yang kita bawa,
nggak heran Mbanya nanya seperti itu. “Iya Mba, biar nggak terlalu dingin.”
Nana menjawab dengan muka memelas. Aku pengen ngakak tapi nanti terlihat nggak
profesional dan nggak menghayati peran. Kita pun mendapatkan tiga buah kardus
dengan ukuran yang lumayan besar. Aku senang, meskipun itu memang belum cukup.
“Na, dasar gila!”Aku ngomong ke Nana sambil ketawa kencang. “Biar ajalah Wik,
udah terlanjur dianggap gembel duluan.” Kita pun sepakat untuk melepas kaca
mata, agar semakin menghayati peran malam ini. Harapan terakhir adalah tempat
makan di pinggir jalan dengan harga resto itu. Kita nggak begitu sering kesana,
nggak perlu ditulis lagikan alasannya. Sekarang penampilan kita yang memang
udah lebih menyedihkan karena ditambah dengan kardus yang kita bawa. “Kenapa
Mba?”Tanya seorang pekerja yang tadinya sibuk membereskan alat-alat masak,
karena mereka udah mau tutup. Mukanya memang terlihat iba kepada kami. Ternyata
masih banyak sih orang-orang yang hatinya baik ya. Sekarang giliranku yang
harus ngomong. Aku agak gugup karena merasa geli juga dengan tatapan si Mba
yang nanya dan beberapa karyawan disana. Saat itu kami jadi pusat perhatian.“Mba..”aku
belum melanjutkan kata-kataku, “Mau makan Mba?” Tanyanya. Aku menggeleng.
“Minta kardus aja Mba.”Akhirnya aku menjawab. “Buat alas tidur ya Mba, sebentar
kita cari yang agak gede ya.”, “Lebih gede dari sini ada Mba?”Aku bertanya
sambil menunjuk kardus yang ku pegang dan dipegang Nana. “Ada kok, cukup buat
alas tidur.” Jawab Mbanya. Dalam hati aku udah pengen ketawa lagi, muka Mba
yang ini lebih lucu daripada muka si Mba di Warung Pasta tadi. Kemudian seorang
cowok datang membawa dua buah kardus dengan ukuran besar. Aku senang banget, tersenyum
dan bilang makasih buat mereka. Ketika kita udah berbalik, tiba-tiba salah
seorang dari mereka bilang, “Mba, tidur di depan gpp kok.”, “Makasi Mas”, aku
dan Nana menjawab bersamaan.
Setelah keluar dari sana, kita hanya tertawa
kencang dan berjalan menuju kosan, kita pengen minum teh manis panas, biar
nggak masuk angin argumen kita. Sekaligus menertawakan ajaibnya malam ini. Kita
memesan teh manis panas kepada Mas langganan kita, “Mba ada beberapa kardus aqua
buat nambah-nambahin” kata Masnya, dia tau aku butuh kardus untuk pindahan, aku
pun senang dan langsung minta kepada Masnya. Sewaktu Masnya ngasi ada seorang
cowok masuk ke dalam dan memesan indomie telur. “Kardusnya buat apa?”tanyanya
sopan. “Alas tidur Mas.”, jawab Nana asal. Masnya menatap kita dengan wajah
sedikit kebingungan, Mas yang jualan nggak komentar, kita udah lumayan kenal
dan Mas nya tau kalo kadang kita memang iseng. Teh manis panas pun selesai
dibuat, “Nggak makan Mba?”Tanya cowok itu lagi. Aduh, memang ya itu cowok udah
manis, ternyata baik hati juga. “Nggak ada uang Mas.”Jawabku sekalian curhat.
“Makan aja Mba, saya yang bayar. Nggak apa-apa.”, “Iya, makan aja Mba.” Mas
yang jualan menambahkan sambil senyum-senyum ke arah kita. Seandainya kita
lapar, kita bakal makan juga sih, menolak traktiran kan pantang. “Nggak usah
Mas, makasih.”Jawabku lagi.
“Mas, kalau mas mau bantu kita, beli
jualan kita aja.” Nana mengeluarkan pensil dari dalam kantong kresek hitam. Mas
yang jualan geleng-geleng sambil tersenyum. “Jualan Mba?” Kata Mas yang baik
hati. Nana mengangguk. “Yah, saya boro-boro punya anak Mba, nikah aja nggak,
ntar mau buat apaan.”Masnya berargumen. “Nggak beli juga nggak apa-apa kok Mas.
Makasih.” Jawab Nana sambil tersenyum.” Aku yang udah nggak kuat lagi nahan
tawa memilih diam. “Mas, ini sekalian dipotong minum mereka aja.”Kata si Mas
yang baik hati. “Mas, nggak usah, kita udah bayar kok.”Jawabku ngasal dan
melihat ke arah mas langganan, karena sebenarnya kita juga belum bayar. Aku
memang melanggar hukum karena menolak traktiran. Mas yang jualan udah sehati
dengan kita sepertinya, dia mengerti bahasa tatapan. “Mereka udah bayar Mas.”
Katanya. Mas baik hati naik motor dan pergi, sementara aku , Nana dan Mas yang
jualan ketawa kencang, kemudian kita membayar minum dan akhirnya sampai di
kamar kosan. Kita masih belum bisa berhenti tertawa. Tapi aku merasa senang
karena akhirnya bisa packing dan besok tinggal ngantar barang ke kargo.
Hal yang ku lakukan selanjutnya bukannya
packing, malah asik ketawa-ketawa dengan Nana, berkunjung ke kamar Ria dan
ketawa-ketawa disana, kita kecapekan ketawa dan akhirnya tidur. Besoknya Nana
ke kampus sementara aku packing dengan Bang Lambok. Setelah semua barang
dipack, kita pun kebingungan gimana caranya naroh barang-barang ini ke bawah.
Ya diangkat dan turun lewat tangga, memang benar solusinya, tapi kita pengen
cari cara yang lebih efektif karena Bang Labok katanya (katanya) nggak tega kalau aku ikutan bolak balik
tangga ke bawah untuk keempatkalinya, soalnya wajahku udah menyedihkan dengan
keringat bercucuran, lagian kakiku belum sepenuhnya sembuh. Akhirnya bang
Lambok ngikat handuk, ada tiga buah yang diikat sekencang-kencangnya dengan
kain, dan disambung dengan kain lainya dan setelah yakin itu cukup kuat, abang
mengikat kardus dengan kain dan menurunkannya ke bawah, dan aku hanya bertugas
menunggu di bawah. Kasian Bang Lambok sih, makanya setelah kelar, aku
berinisiatif untuk membelikan dia minuman dingin dan memanggil tukang taksi ke
pinggir jalan. Penampilanku tetep sama menyedihkannya dengan tadi malam, hanya
baju yang berganti dengan model yang nggak jauh berbeda. Sementara Bang Lambok,
kerja keras juga masih betah memakai celana jeans pendek dan baju kaos yang kece, ya melihat
penampilan kami memang seperti saudara dengan beda kasta. Si miskin dan si agak
kaya. Sudah setengah jam lebih aku berdiri di pinggir jalan tapi nggak juga
nemu taksi. Belum lagi Depok waktu itu panas banget. Padahal banyak taksi yang
lewat, cuma mereka nggak mau berhenti. Ada seorang tukang taksi yang sebentar
berhenti dan mengamati aku, kemudian langsung pergi gitu aja. Aku pun sadar diri, ya penampilanku nggak nunjukin
kalau aku bisa bayar. Akhirnya pulang ke
kosan, cerita ke Bang Lambok dan dia malah ketawa kencang, kemudian turun,
hanya beberapa menit dia udah datang dengan taksi biru itu. Kita dengan Mas
Supir bekerja sama memasukkan kardus-kardus ke dalam. Setelah disusun dengn
posisi yang sulit ku deskripsikan, intinya yang penting muat, akhirnya kita
berangkat ke stasiun Manggarai. Bang Lambok dan supir di depan, sementara aku
di belakang dengan tumpukan barang-barang, ya sesuai kasta. Macet iya, Jakarta
belum berubah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Kita sampai juga di
Manggarai. Menimbang barang-barang ke kargo kereta dan membayar, kita
menyempatkan makan pisang goreng disana dan pulang ke Depok dengan kereta.
Pisanga goreng di dekat stasiun Manggarai memang enak, ya siapa tau kapan-kapan
kalian kesana, cobain deh!
Besoknya Bang Lambok pulang ke Jogja dan
setelah dua hari dia ngabarin kalau semua barang-barangku sudah sampai di
kosannya, dan aku lega. Soalnya tentang barang-barang aku agak sedikit
berlebihan buat orang lain, tapi buat yang rada melankolis juga, itu terlihat
wajar. Aku juga melihat barang dari nilai historisnya, apalagi barang-barang
yang merupakan hadiah dari orang lain, jadi aku senang banget setelah tau
barang-barangku aman.Ya sudah, sisa barang-barang sudah ku wariskan, bed cover,
cermin, lemari, keranjang baju, dll kepada teman-teman satu kosan. Aku bukan
lagi sok nggak butuh itu barang, cuma aku nggak mau minta bayar dari
orang-orang yang udah ku anggap keluarga di tanah rantau ini. Aku seperti
orangtua yang sedang bagi-bagi warisan. Tadinya memang aku udah berencana nggak
bakalan ke Jakarta lagi. Aku pulang ke rumah, berbulan-bulan pengangguran di
rumah dan menjadi karyawan kak Eva, saya gadis desa penjaga warnet. Januari
tahun berikutnya papa meninggal dan rencana hidupku pun berubah drastis, aku
nggak langsung melanjut, jadinya kerja dulu aja. Rencananya aku mau cari kerja
dan stay di Medan, mama belum kasi izin kembali ke Jakarta waktu itu. Sebelum
berangkat ke Medan, aku berencana akan minta tolong Bang Lambok ngirimin bajuku
dan juga beberapa tas, lewat kantor pos biar murah. Malam itu aku ke ruang
depan dan mulai menelepon Bang Lambok. Setelah cerita-cerita dan ketawa-ketawa,
akhirnya aku ngomong,
“Bang, kirim baju-baju dan tasku ke rumah
ya, terserah yang mana aja Bang, biar ada ku pakai di Medan.” Kemudian
tiba-tiba hening. Aku bingung kenapa dia diam. “Dek, jangan marah, janji ya.”
Kalimat ini nggak make sense sih kalau buatku, gimana kita bisa tau bakalan
marah atau nggak kalau kita juga nggak tau yang terjadi itu apa, tapi aku juga
sering ngucapin kalimat yang sama. “Nggak janji. Tergantung kenapa dulu
bang.”Jawabku nggak diplomatis. “Semua baju dan tas mu udah kami jualin Dek.”
Aku masih ketawa, candaannya hampir lucu. “Seriusan Dek, maaf ya Dek. Tapi
buku-bukumu sama sekali nggak ku apa-apain kok Dek.” Aku berhenti tertawa.
“Seriusan Bang? Jadi tas ku yang…”Aku menyebutkan tas-tas dan baju favoritku
yang kadang harus ku beli dengan modal tabungan. “Semua Dek.” Bang Lambok
menegaskan. Aku pun tau kalau dia nggak lagi bercanda. Mataku langsung panas
dan nangis. “Kok abang bodoh kali ya Bang.” Komentarku dan langsung mematikan
telpon. Masuk dan nangis di kamar. Aku takut juga ketahuan mama, kasian Bang
Lambok dimarahi mama. Ka Eva masuk ke kamar dan aku cerita. Dia nggak komentar
apa-apa, dan memang nggak tau lagi mau komentar apa-apa. Jiwa wirausaha abangku
mungkin terlalu besar. Kalau ngingat capeknya ngepacking semua barang ke Jogja,
bayar taksi, kargo yang menurutku nggak murah dan barang-barangku dijual gitu
aja, baju dan tasku jadi praktek wirausaha. Argh! kesal banget rasanya waktu
itu. Aku merasa sangat miskin mendadak.
Akhirnya aku berangkat ke Medan dan ditelpon
Bang Lambok, dia minta maaf dan memita alamatku di Medan. Kirain dia akan
datang ke Medan, khusus untuk minta maaf kepadaku, oke ku kebanyakan baca novel
romantis. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan kiriman tas, baju, sepatu
untuk wawancara kerja katanya. Dan sepatu pilihannya sama sekali bukan
seleraku, meskipun ukurannya pas. “Nanti kalau aku udah sukses Dek, aku ajakin
kamu belanja apapun yang mau kamu beli.” Kalimat itu mungkin bisa sedikit
menyenangkan hati. Akhirnya mau bilang apa lagi, gitu-gitu dia abangku., ya
udalah aku memutuskan untuk berdamai. Lagian aku lumayan sering bilang “I love
you Bang,”at least kalo dia lagi ulang tahun. Mungkin sekarang waktunya untuk
buktiin kalimat itu. Ingatanku memutar semua peristiwa agar barang-barang itu
sampai di Jogja. Packing dengan kaki pincang, minta-minta kardus sampai dipikir
gelandangan, nurunin barang ke bawah, angkatin barang ke taksi hanya untuk
dijual di pasar kaget dengan harga yang sangat, sangat murah. Tapi sudahlah,
hidup memang nggak selalu manis, kadang kita bisa miskin mendadak. Tapi cara
seseorang memperbaiki kesalahan bisa membuatnya lebih manis. Aku memang
kehilangan, tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga, aku mendapatkan
warisan yang lebih abadi, kenangan.