Senin, 20 Juli 2015

MISKIN MENDADAK

Sebenarnya tampang kalian bisa dibawa kok, cuma kelakuan yang kalian yang bikin cowok ilfil! Tono tetangga kosan kami komentar saat aku makan di warung deket kosan mereka, ya kami tetanggaan. “Kok perhatian banget?” Aku senyum-senyum sok manis. “Bukannya perhatian, ketawa kalian aja ya bisa terdengar sampe kosan kami.” Trus denger jawabannya langsung sok sibuk makan, soalnya aku udah nggak ada argumen, bener kata dia. Di jalan mau pulang ke kosan, aku liat bangunan kos orange itu, namanya Villa Putri, terdiri dari dua lantai dengan masing-masing empat kamar. Di lantai atas mulai dari ujung kiri, ada kamar Nana, Barbie, Ria, dan kamarku. Sementara empat kamar di lantai bawah adalah kamar Putri, Mas Levis maksudku mas tukang jahit, Ita, dan si Bapak (sebutan kami untuk bapak yang buka warung disitu). Sebenarnya kami termasuk anak kos yang beruntung banget karena harga jualan si Bapak, apalagi cemilan, susu, yakult, seringkali lebih murah dibandingkan Indomaret di pinggir jalan yang dekat dengan kosan kami. Di pinggir jalan juga ada Mas tukang bubur ayam plus indomie yang resmi menjadi langganan kami. Kita memang butuh langganan biar bisa ngutang. Setiap kamar punya jendela yang menghadap ke jalan. Jadi sirkulasi udara memang sangat bagus, dan kalau misalnya lagi galau bisa duduk di atas tempat tidur dan memandangi jalan lewat jendela. Selesai makan aku mau balik lagi ke kosan dan mendengar suara tawa mereka dari kamar Nana, “Woi, pada mau nitip nggak?”, aku berteriak sebelum naik ke atas. Dan disambut juga dengan teriakan dari atas, “Teh botol, yakult”dan macem-macem titipan mereka. Nggak cuma ketawanya yang nyeremin, porsi makannya juga, aku menambahkan pendapat Tono barusan dalam hati. Aku naik ke lantai atas dengan sekantong cemilan dan tiga botol teh botol, biasanya kita beli yang kotak soalnya nggak ribet balikin botolnya, tapi kali ini memang lagi kurang beruntung karena yang kotak habis.
Naik ke lantai dua aku langsung menuju kamar Nana. Kita milih kamar Nana karena paling dekat dengan tangga dan dia punya speaker yang gede banget. Jadi kalo misalnya dia bikin setengah aja volumenya itu bisa menghibur satu RW, mungkin kalau kami beneran bokek, barangkali akan membuka penyewaan speaker untuk musik acara ulang tahun, ya kali aja ada yang butuh. Aku juga sebenarnya nggak paham buat apa Nana beli speaker segitu gedenya, sementara meja belajar rusak aja dia nggak beli yang baru. Dia baca buku pake kardus sepatu ditaruh di atas paha atau tempat tidur, alasannya lebih ringan. Aku ikut-ikutan, dan merasa belajar kardus sepatu yang disulap menjadi meja belajar itu keren. Meja belajarku di kamar pun resmi menjadi pajangan, demi harga diri biar dikirain rajin belajar. Di kamar Nana, kita stel musik, karokean gratis dan  selesai minum kami meletakkan botolnya di sudut dekat tangga.
Waktu itu masa-masa bulan puasa jadi abang dan kakakku datang dari Jogja, abang jadi tour guidenya kakak yang sedang jalan-jalan, Kak Eva nama kakakku. Kakak balik ke Medan sementara abang masih stay di kosan. Bang Lambok, abangku resmi membajak kamarku, jadi aku mengungsi tidur di kamar Nana. Aku memang harus buru-buru packing barang-barang karena lusa akan dikirim ke Jogja dengan jasa kargo kereta api. Tadinya, aku mau langsung kuliah lagi di UGM, kalau keterima. Menurutku kamar itu ajaib deh, keliatannya aja kecil, udah barang-barang pada mau dipacking, tiba-tiba aja jadi banyak, padahal aku baru punya dua kardus, jadi aku nyusun buku-buku dulu ke dalam kardus itu, waktu bongkar-bongkar, baca-baca dulu sebentar, terus masukin sambil denger musik kesukaan dengan headset, ya gitu terus sampai kardusnya juga nggak penuh-penuh setelah nyadar udah pukul 03.00, sementara Bang Lambok udah tidur nyenyak di atas tempat tidur walaupun situasi di bawah tempat tidur kacau karena buku-buku yang masih berantakan,buru-buru ku rapikan dan akhirnya dua kardus kosong itu sudah terisi dan hanya muat beberapa buku. Sebenarnya aku juga udah usaha banget nyari-nyari kardus kemana-mana, tapi dasar nasib nggak baik, Si Bapak bilang baru aja dijual, di Indomaret deket jalan juga kardusnya baru aja dikumpulin ke pusat dan kalau minta ke Mas yang jualan Indomie, ya pasti yang ada juga kardus indomie aja kan, maksud ku itu kekecilan.
Semua warga kosan udah pada tidur sepertinya, soalnya kosan udah tenang, aku pun beranjak ke kamar Nana, nyeker, padahal sendal juga di depan pintu kamar. Persis di depan pintu kamar Nana aku memijak sesuatu, dan langsung nancep ke kakiku. Aku pengen narik, tapi nggak kelihatan jelas, itu apaan. Aku memagang HP bersenter dan mengarahkan ke kakiku, eh ternyata beling yang besar. Dan darah dari kakiku udah menetes. Aku kaget ngeliat darahnya, sampai nggak merasa sakitnya. Botol tadi siang, mungkin jatuh karena kucing sering bertamu ke tong sampah dekat tangga. Dasar kucing, ngejatuhin botol bukannya dirapiin. Bikin pecah botol bukannya dibersihin. Aku panik karena kaki udah bersimbah darah, udah mirip pembunuhan di tv. Aku jalan dengan terpincang-pincang menuju kamarku dan langsung ke kamar mandi, membuka kran, dan karena aku berisik, Bang Lambok terbangun, “Dek, ngapain? kenapa?”, “Kakiku kena beling.” Suaraku udah seperti teriakan. Bang Lambok langsung ke kamar mandi dan lihat, dia nyuruh aku duduk di atas kasur dan melap kakiku. Katanya luka kakiku besar. Aku nggak berani lihat. Dia membungkus kakiku dengan kain dan membersihkan beling di depan kamar Nana, dan juga darah kakiku yang udah kemana-mana.
“Memang kenapa nggak pake sendal, padahal sendalmu di depan kamar.” Bang Lambok menatapku meminta penjelasan. “Buru-buru karena ngantuk Bang. Orang udah kesakitan juga, ngapain abang marah-marahin lagi.” Aku juga sebenarnya tau yang ku ajukan bukan pertanyaan. “Selagi kau rasakan efek nggak hati-hati Dek!” Jelasnya, dan aku pun pasrah untuk mendengarkan kata-kata Bang Lambok. Pukul 07.00 kami langsung pergi ke klinik, disana mereka membersihkan kakiku dengan cairan alkohol dan mengikat dengan kain kasa. Setelah itu kita balik ke kosan. Kami mulai lagi mempacking barang-barang, tapi karena belum ada kardus jadi hanya dikelompok-kelompokkan dulu aja. Malamnya, aku dan Nana pergi ke kosan Gerrard, adek Nana untuk mengambil barang-barang jualan kak Eva yang kami titip. Kak Eva punya usaha jualan kecil-kecilan di kampung. Sebenarnya itu udah hampir pukul 23.00, untung aja kosan Gerrard belum ditutup. Aku cerita ke Nana kalau aku belum punya kardus, padahal besok sore barang-barangku harus udah diantar ke kargo kereta. “Nggak usah khawatir, kita cari!” Nana menanggapi denga santai. “Cari kemana Na, udah jam segini.” Bantahku karena nggak yakin. “Masih banyak tempat makan yang buka.”Jawab Nana. Kami membawa barang-barang ATK dari kosan Gerrard di dalam kantong kresek hitam yang besar, masing-masing memegang satu kantong. Rambut kita berantakan, pake kaos, celana pendek dan sendal jepit yang nggak bersih-bersih amat melengkapi penampilan kita yang menyedihkan, tapi memang penampilan kita kalau nggak kemana-mana yang begini sih.
Lawson masih buka, kita pun masuk, menanyakan mereka punya kardus kosong apa nggak, dan menambahkan kalo kita beli juga nggak apa-apa, hasilnya nihil. Karyawan di sana udah kenal sama kita karena hampir tiap hari kesana, dan kita malah menamai Lawson, kantin. Makanan dan minuman disana nggak begitu mahal, ditambah free wifi. Di sebelahnya ada Warung Pasta dan tempat makan pinggir jalan dengan harga yang nggak bersahabat dengan kantong mahasiswa pas-pasan seperti kami. Kita masuk ke Warung Pasta dengan tujuan yang sama. Karyawannya memandangi kita dengan tatapan kasihan, “Sebentar ya ada sih beberapa, mau buat alas tidur ya Mba?” Kata salah seorang dari mereka, padahal biasanya kalau siang-siang kita nongkrong kesana, mereka nggak seperhatian itu tuh. Penampilan memang sangat berpengaruh ya. Aku mau tertawa, tapi memang melihat penampilan kita dan juga kantong kresek yang kita bawa, nggak heran Mbanya nanya seperti itu. “Iya Mba, biar nggak terlalu dingin.” Nana menjawab dengan muka memelas. Aku pengen ngakak tapi nanti terlihat nggak profesional dan nggak menghayati peran. Kita pun mendapatkan tiga buah kardus dengan ukuran yang lumayan besar. Aku senang, meskipun itu memang belum cukup. “Na, dasar gila!”Aku ngomong ke Nana sambil ketawa kencang. “Biar ajalah Wik, udah terlanjur dianggap gembel duluan.” Kita pun sepakat untuk melepas kaca mata, agar semakin menghayati peran malam ini. Harapan terakhir adalah tempat makan di pinggir jalan dengan harga resto itu. Kita nggak begitu sering kesana, nggak perlu ditulis lagikan alasannya. Sekarang penampilan kita yang memang udah lebih menyedihkan karena ditambah dengan kardus yang kita bawa. “Kenapa Mba?”Tanya seorang pekerja yang tadinya sibuk membereskan alat-alat masak, karena mereka udah mau tutup. Mukanya memang terlihat iba kepada kami. Ternyata masih banyak sih orang-orang yang hatinya baik ya. Sekarang giliranku yang harus ngomong. Aku agak gugup karena merasa geli juga dengan tatapan si Mba yang nanya dan beberapa karyawan disana. Saat itu kami jadi pusat perhatian.“Mba..”aku belum melanjutkan kata-kataku, “Mau makan Mba?” Tanyanya. Aku menggeleng. “Minta kardus aja Mba.”Akhirnya aku menjawab. “Buat alas tidur ya Mba, sebentar kita cari yang agak gede ya.”, “Lebih gede dari sini ada Mba?”Aku bertanya sambil menunjuk kardus yang ku pegang dan dipegang Nana. “Ada kok, cukup buat alas tidur.” Jawab Mbanya. Dalam hati aku udah pengen ketawa lagi, muka Mba yang ini lebih lucu daripada muka si Mba di Warung Pasta tadi. Kemudian seorang cowok datang membawa dua buah kardus dengan ukuran besar. Aku senang banget, tersenyum dan bilang makasih buat mereka. Ketika kita udah berbalik, tiba-tiba salah seorang dari mereka bilang, “Mba, tidur di depan gpp kok.”, “Makasi Mas”, aku dan Nana menjawab bersamaan.
 Setelah keluar dari sana, kita hanya tertawa kencang dan berjalan menuju kosan, kita pengen minum teh manis panas, biar nggak masuk angin argumen kita. Sekaligus menertawakan ajaibnya malam ini. Kita memesan teh manis panas kepada Mas langganan kita, “Mba ada beberapa kardus aqua buat nambah-nambahin” kata Masnya, dia tau aku butuh kardus untuk pindahan, aku pun senang dan langsung minta kepada Masnya. Sewaktu Masnya ngasi ada seorang cowok masuk ke dalam dan memesan indomie telur. “Kardusnya buat apa?”tanyanya sopan. “Alas tidur Mas.”, jawab Nana asal. Masnya menatap kita dengan wajah sedikit kebingungan, Mas yang jualan nggak komentar, kita udah lumayan kenal dan Mas nya tau kalo kadang kita memang iseng. Teh manis panas pun selesai dibuat, “Nggak makan Mba?”Tanya cowok itu lagi. Aduh, memang ya itu cowok udah manis, ternyata baik hati juga. “Nggak ada uang Mas.”Jawabku sekalian curhat. “Makan aja Mba, saya yang bayar. Nggak apa-apa.”, “Iya, makan aja Mba.” Mas yang jualan menambahkan sambil senyum-senyum ke arah kita. Seandainya kita lapar, kita bakal makan juga sih, menolak traktiran kan pantang. “Nggak usah Mas, makasih.”Jawabku lagi.
“Mas, kalau mas mau bantu kita, beli jualan kita aja.” Nana mengeluarkan pensil dari dalam kantong kresek hitam. Mas yang jualan geleng-geleng sambil tersenyum. “Jualan Mba?” Kata Mas yang baik hati. Nana mengangguk. “Yah, saya boro-boro punya anak Mba, nikah aja nggak, ntar mau buat apaan.”Masnya berargumen. “Nggak beli juga nggak apa-apa kok Mas. Makasih.” Jawab Nana sambil tersenyum.” Aku yang udah nggak kuat lagi nahan tawa memilih diam. “Mas, ini sekalian dipotong minum mereka aja.”Kata si Mas yang baik hati. “Mas, nggak usah, kita udah bayar kok.”Jawabku ngasal dan melihat ke arah mas langganan, karena sebenarnya kita juga belum bayar. Aku memang melanggar hukum karena menolak traktiran. Mas yang jualan udah sehati dengan kita sepertinya, dia mengerti bahasa tatapan. “Mereka udah bayar Mas.” Katanya. Mas baik hati naik motor dan pergi, sementara aku , Nana dan Mas yang jualan ketawa kencang, kemudian kita membayar minum dan akhirnya sampai di kamar kosan. Kita masih belum bisa berhenti tertawa. Tapi aku merasa senang karena akhirnya bisa packing dan besok tinggal ngantar barang ke kargo.
Hal yang ku lakukan selanjutnya bukannya packing, malah asik ketawa-ketawa dengan Nana, berkunjung ke kamar Ria dan ketawa-ketawa disana, kita kecapekan ketawa dan akhirnya tidur. Besoknya Nana ke kampus sementara aku packing dengan Bang Lambok. Setelah semua barang dipack, kita pun kebingungan gimana caranya naroh barang-barang ini ke bawah. Ya diangkat dan turun lewat tangga, memang benar solusinya, tapi kita pengen cari cara yang lebih efektif karena Bang Labok katanya (katanya)  nggak tega kalau aku ikutan bolak balik tangga ke bawah untuk keempatkalinya, soalnya wajahku udah menyedihkan dengan keringat bercucuran, lagian kakiku belum sepenuhnya sembuh. Akhirnya bang Lambok ngikat handuk, ada tiga buah yang diikat sekencang-kencangnya dengan kain, dan disambung dengan kain lainya dan setelah yakin itu cukup kuat, abang mengikat kardus dengan kain dan menurunkannya ke bawah, dan aku hanya bertugas menunggu di bawah. Kasian Bang Lambok sih, makanya setelah kelar, aku berinisiatif untuk membelikan dia minuman dingin dan memanggil tukang taksi ke pinggir jalan. Penampilanku tetep sama menyedihkannya dengan tadi malam, hanya baju yang berganti dengan model yang nggak jauh berbeda. Sementara Bang Lambok, kerja keras juga masih betah memakai celana jeans  pendek dan baju kaos yang kece, ya melihat penampilan kami memang seperti saudara dengan beda kasta. Si miskin dan si agak kaya. Sudah setengah jam lebih aku berdiri di pinggir jalan tapi nggak juga nemu taksi. Belum lagi Depok waktu itu panas banget. Padahal banyak taksi yang lewat, cuma mereka nggak mau berhenti. Ada seorang tukang taksi yang sebentar berhenti dan mengamati aku, kemudian langsung pergi gitu aja. Aku  pun sadar diri, ya penampilanku nggak nunjukin kalau aku bisa bayar.  Akhirnya pulang ke kosan, cerita ke Bang Lambok dan dia malah ketawa kencang, kemudian turun, hanya beberapa menit dia udah datang dengan taksi biru itu. Kita dengan Mas Supir bekerja sama memasukkan kardus-kardus ke dalam. Setelah disusun dengn posisi yang sulit ku deskripsikan, intinya yang penting muat, akhirnya kita berangkat ke stasiun Manggarai. Bang Lambok dan supir di depan, sementara aku di belakang dengan tumpukan barang-barang, ya sesuai kasta. Macet iya, Jakarta belum berubah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Kita sampai juga di Manggarai. Menimbang barang-barang ke kargo kereta dan membayar, kita menyempatkan makan pisang goreng disana dan pulang ke Depok dengan kereta. Pisanga goreng di dekat stasiun Manggarai memang enak, ya siapa tau kapan-kapan kalian kesana, cobain deh!
Besoknya Bang Lambok pulang ke Jogja dan setelah dua hari dia ngabarin kalau semua barang-barangku sudah sampai di kosannya, dan aku lega. Soalnya tentang barang-barang aku agak sedikit berlebihan buat orang lain, tapi buat yang rada melankolis juga, itu terlihat wajar. Aku juga melihat barang dari nilai historisnya, apalagi barang-barang yang merupakan hadiah dari orang lain, jadi aku senang banget setelah tau barang-barangku aman.Ya sudah, sisa barang-barang sudah ku wariskan, bed cover, cermin, lemari, keranjang baju, dll kepada teman-teman satu kosan. Aku bukan lagi sok nggak butuh itu barang, cuma aku nggak mau minta bayar dari orang-orang yang udah ku anggap keluarga di tanah rantau ini. Aku seperti orangtua yang sedang bagi-bagi warisan. Tadinya memang aku udah berencana nggak bakalan ke Jakarta lagi. Aku pulang ke rumah, berbulan-bulan pengangguran di rumah dan menjadi karyawan kak Eva, saya gadis desa penjaga warnet. Januari tahun berikutnya papa meninggal dan rencana hidupku pun berubah drastis, aku nggak langsung melanjut, jadinya kerja dulu aja. Rencananya aku mau cari kerja dan stay di Medan, mama belum kasi izin kembali ke Jakarta waktu itu. Sebelum berangkat ke Medan, aku berencana akan minta tolong Bang Lambok ngirimin bajuku dan juga beberapa tas, lewat kantor pos biar murah. Malam itu aku ke ruang depan dan mulai menelepon Bang Lambok. Setelah cerita-cerita dan ketawa-ketawa, akhirnya aku ngomong,
“Bang, kirim baju-baju dan tasku ke rumah ya, terserah yang mana aja Bang, biar ada ku pakai di Medan.” Kemudian tiba-tiba hening. Aku bingung kenapa dia diam. “Dek, jangan marah, janji ya.” Kalimat ini nggak make sense sih kalau buatku, gimana kita bisa tau bakalan marah atau nggak kalau kita juga nggak tau yang terjadi itu apa, tapi aku juga sering ngucapin kalimat yang sama. “Nggak janji. Tergantung kenapa dulu bang.”Jawabku nggak diplomatis. “Semua baju dan tas mu udah kami jualin Dek.” Aku masih ketawa, candaannya hampir lucu. “Seriusan Dek, maaf ya Dek. Tapi buku-bukumu sama sekali nggak ku apa-apain kok Dek.” Aku berhenti tertawa. “Seriusan Bang? Jadi tas ku yang…”Aku menyebutkan tas-tas dan baju favoritku yang kadang harus ku beli dengan modal tabungan. “Semua Dek.” Bang Lambok menegaskan. Aku pun tau kalau dia nggak lagi bercanda. Mataku langsung panas dan nangis. “Kok abang bodoh kali ya Bang.” Komentarku dan langsung mematikan telpon. Masuk dan nangis di kamar. Aku takut juga ketahuan mama, kasian Bang Lambok dimarahi mama. Ka Eva masuk ke kamar dan aku cerita. Dia nggak komentar apa-apa, dan memang nggak tau lagi mau komentar apa-apa. Jiwa wirausaha abangku mungkin terlalu besar. Kalau ngingat capeknya ngepacking semua barang ke Jogja, bayar taksi, kargo yang menurutku nggak murah dan barang-barangku dijual gitu aja, baju dan tasku jadi praktek wirausaha. Argh! kesal banget rasanya waktu itu. Aku merasa sangat miskin mendadak.
 Akhirnya aku berangkat ke Medan dan ditelpon Bang Lambok, dia minta maaf dan memita alamatku di Medan. Kirain dia akan datang ke Medan, khusus untuk minta maaf kepadaku, oke ku kebanyakan baca novel romantis. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan kiriman tas, baju, sepatu untuk wawancara kerja katanya. Dan sepatu pilihannya sama sekali bukan seleraku, meskipun ukurannya pas. “Nanti kalau aku udah sukses Dek, aku ajakin kamu belanja apapun yang mau kamu beli.” Kalimat itu mungkin bisa sedikit menyenangkan hati. Akhirnya mau bilang apa lagi, gitu-gitu dia abangku., ya udalah aku memutuskan untuk berdamai. Lagian aku lumayan sering bilang “I love you Bang,”at least kalo dia lagi ulang tahun. Mungkin sekarang waktunya untuk buktiin kalimat itu. Ingatanku memutar semua peristiwa agar barang-barang itu sampai di Jogja. Packing dengan kaki pincang, minta-minta kardus sampai dipikir gelandangan, nurunin barang ke bawah, angkatin barang ke taksi hanya untuk dijual di pasar kaget dengan harga yang sangat, sangat murah. Tapi sudahlah, hidup memang nggak selalu manis, kadang kita bisa miskin mendadak. Tapi cara seseorang memperbaiki kesalahan bisa membuatnya lebih manis. Aku memang kehilangan, tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga, aku mendapatkan warisan yang lebih abadi, kenangan.

Jumat, 10 Juli 2015

"DRAMA" PERTAMA SKRIPSI



Lagi musimnya orang-orang sidang, di timeline sosial media, banyak banget yang up load foto selesai sidang. Liat fotonya keliatan fun banget, dan keren banget. Tapi aku yakin aja, memperjuangkan itu nggak sefun kelihatannya sih. Apalagi yang namanya ngerjain laporan sakral, skripsi. Secara keseluruhan perjalanan ngerjain skripsi perjuangan banget,buat mahasiswa yang keseringan SKS seperti aku ini, persiapan UAS hanya tiga jam sebelum ujian, ngerjain tugas yang udah dari kapan dikasi dosen, baru H-1 mulai ngerjainnya, tapi yang namanya skripsi mana bisa digituin, trus susah banget juga, mengubah kebiasaan SKS yang sudah mendarah daging selama 7 semester di semester terakhir. Tapi, entah gimana, akhirnya jadi juga skripsi itu.
Buatku mengurusi administrasi sidang adalah moment yang paling bikin deg-degan, menguras kesabaran, menegangkan, dan lucu. Okey, jadi kalau di di Fakultas Psikologi kita harus meminta tanda tangan Pembimbing Akademik (PA) kita, dosen penguji untuk keperluan administrasi, sebelum sidang. Waktu itu ada gosip-gosip kalo PAku bakal pergi ke luar negeri dalam waktu dekat ngantarin Kelompok Peminatan (KP) tari, kaget banget, pantesan aja beberapa kali lewat depan ruangan beliau, nggak pernah ketemu. Teman-teman lain yang satu PA udah pada sidang di gelombang pertama dan kedua, aku sih sidang gelombang terakhir. Aku agak kewalahan ngejar sidang di periode awal, karena teori penelitianku, lumayan susah dapatnya dan susah juga nerjemahinnya, ya udah pokoknya dari berempat teman satu PA, aku doang yang sidang di gelombang terakhir, jadi mereka udah pada minta tanda tangan PA sebelumnya. Akhirnya, aku mengirimkan pesan kepada dosen PA, syukurnya beliau belum berangkat ke luar negeri dan aku dikasi alamat rumahnya dan minta besoknya aku yang datang ke rumah beliau.
Malamnya, aku harus memperbaiki bagian pengolahan data, jadi mesti skoring ulang hasil tes dan aku begadang sama Nana,volunteer sejati :D sahabat satu kosan. Sewaktu skoring itu, aku berani-beraniin nanya ke Nana, “Na, besok ada kegiatan nggak? Temeni aku ke Bekasi dong Na.” Kataku dengan wajah memelas, bukan cuma karna nggak enak lagi, soalnya dia udah banyak banget bantuin aku, ditambah kita berdua memang udah ngantuk, itu udah subuh. Dan aku baru tau, ternyata mamanya Nana lagi di Jakarta, nginap di salah satu hotel di Jakarta, dan besoknya memang langsung balik ke Medan. “Aku bisa Wik, tapi kita pagi-pagi kesana ya, abis itu kita jumpain mamaku ya, sekalian nganterin mamaku ke bandara.” Aku pun mengangguk tanda setuju.
Karena menghitung skor hasil dari kuesioner itu kita nggak tidur sama sekali, jam 04.30 kita mulai siap-siap dan sarapan di salah satu warung mie dan bubur ayam di dekat kosan. Sebenarnya kita sama-sama buta arah. Selama 3,5 tahun di Depok paling juga jalan ke Jakarta, sekitaran Depok, dan Bogor. Kita sama-sama pernah ke Bekasi sih, tapi bisa dihitung jari berapa kalinya, dan kalo aku, ke tempat saudara, tapi itu juga dijemput. Setelah nanya-nanya ke banyak sumber, kita tau rutenya kita gimana. Rute pertamanya adalah Depok- Jalan Baru - Bekasi. Dan petualangan ini pun dimulai, dari Depok kita langsung naik angkot menuju Jalan Baru, dari sana kita akan naik bus menuju Bekasi. Kita duduk di bangku paling depan, deket supir. Karena kita sama sekali nggak tidur satu harian, ngantuknya luar biasa. Kalau nggak lupa, ini pertama kalinya naik angkot sepagi ini, 05.00 perjalanan ini dimulai. Jadi jelaskan, nggak enaknya jadi jomblo lokal, kemana-mana berjuang sendiri, abaikan! Biasanya kita selalu punya banyak topik untuk diomongin, tapi kali ini ngeblank, kita hanya asik berjuang untuk nahan kantuk yang semakin menjadi. Apalagi efek udara pagi dari jendela angkot yang berjalan dengan kenceng, belum macet karena masih subuh, membuat suasana cocok banget untuk tidur. Aku ngeliatin Nana di sampingku, udah tidur pulas, untungnya masih bisa dibangunin setelah kita sampai di Jalan Baru.
Berhubung kita nanyanya ke sesama orang rantau, dan penjelasan di google juga nggak gitu bantu, kita juga baru tau kalo ternyata ada dua bus yang akan menuju Bekasi, Bekasi Timur dan Bekasi Barat. “Memangnya mau ke Bekasi mana Mba?” Kita sama-sama hopeless, nggak paham mau ngasi jawaban apa. Kita nyebut nama perumahan yang tertera di pesan dari dosen PA. Bapaknya juga nggak tau kita bakalan naik bis yang mana kalau mau menuju perumahan itu. Kita berdua juga memang ga paham, tapi memang udah biasa tersesat, jadinya biasa aja. Akhirnya kita liat ada bapak-bapak yang jualan tissue, minuman botol,kita nyamperin bapaknya dan nanya arah.“Oh, naik yang Bekasi Barat Mba, nanti turun di Mega Mall, itu pertengahan Mba, sebelum sampai ke terminal Bekasi.” Kita pun tersenyum merasa menemukan solusi untuk satu masalah pertama, tanpa kita sadari masih banyak masalah lain yang menanti di depan. Pertama, kita juga sama-sama nggak tau Mega Mall dimana.  Kita melihat ke arah jalan raya dan bus yang bertuliskan tujuan ke Bekasi barat udah muncul, tapi masih ngetem. Males masuk ke dalam bis, kita berdua pun duduk di pinggir jalan raya,“Nggak usah takut ah, kita nggak cocok kok jadi gembel. Kita cantik kok.” Kalimat dari Nana sedikit menghibur tapi kalo aku ngeliatin kondisi kita, nggak setuju sih.
Setelah duduk beberapa lama, kita akhirnya milih masuk ke bus dan syukurnya masih dapat tempat duduk, kita juga baru tau kalo pagi-pagi itu nggak cuma jalanan yang macet parah, angkutan umum juga sesak banget. Untung aja, kita nggak duduk lebih lama di pinggir jalan, kalo nggak kita juga bakal dapat jatah kursi. Banyak banget juga yang berdiri, bahkan buat berdiri aja kekurangan tempat. Sewaktu kernetnya minta ongkos kita ngomong, “Pak, nanti kalau udah deket Mega Mall tolong teriakin ya Pak, soalnya kita nggak tau Mega Mall dimana.”, “Iya Mba, biasanya memang diteriakin kok.” Kita bernafas lega, karena merasa nggak akan tersesat. Kita duduk dan sama seperti di angkot, kita udah terlalu capek untuk bercerita, mata udah berat banget, kita pun tidur. Tiba-tiba aku terbangun dan memang busnya udah nggak sepadat tadi, tapi masih ada beberapa orang yang nggak kebagian duduk, tapi sekarang mereka sudah bisa berdiri dengan lebih manusiawi. “Mas ini udah sampai Mega Mall belum?” tanyaku kepada cowok yang berdiri di sebelahku.”, “Belum kok Mba.”Jadi aku juga merasa lega dan tidur lagi.
Aku juga nggak paham, yang terjadi berikutnya, yang aku ingat, tidurku nyaman banget, Nana juga sama, sampai tiba-tiba ada seseorang yang ngebangunin kita, “Mba, Mba mau kemana? Kita berdua terbangun dan sekarang hanya empat orang yang ada di bus. Pak supir, kernet, aku dan Nana. Nana entah karena baru bangun tidur, sadar nggak sadar dengan ucapannya, dia bilang “ TAPI KAN PAK KITA UDAH MINTA DITERIAKIN KALAU UDAH SAMPAI DI MEGA MALL.”, Nada suara Nana agak meninggi, aku takut bapaknya malah ikutan marah dan Bapaknya pun bilang, untungnya dengan suara pelan, “Kan, tadi saya juga teriak Neng! Saya kira neng berdua udah turun”,“Maaf ya Pak, makasih Pak.” Aku langsung ngomong gitu, bener dong bapaknya, bapaknya kan nggak tau kita yang mana diantara sebegitu banyak penumpang. Aku menatap Nana, dia tersenyum, “Maaf ya Pak!” Ucapnya ke bapak kernet yang baik hati. Nana juga mungkin baru sadar. Dari terminal Bekasi, kita naik angkot lagi ke Mega Mall, setelah itu nanya Bu Dosen, kita akan kemana, nah kita disuruh naik angkot sekali lagi, setelah turun dari angkot kita naik ojek dan muter-muter aja di kompleks perumahan itu. Nana mulai nggak sabar, “Bapak, kok bisa nggak tau sih Pak?”, tanyanya dengan nada kencang kepada Bapak ojek. Wajar dia kesal karena mamanya juga udah bolak-balik nelpon. Dan itu udah hampir pukul 12.00, aku juga udah merasa bersalah banget sama Nana, nggak enak banget rasanya. Setelah muter-muter, nelpon Bu dosen berkali-kali, akhirnya kita sampai di rumah Ibu dosen. Kita udah mutarin kompleks perumahan hampir tiga kali, padahal rumah ibunya deket ke portal masuk perumahan. Kita yang udah capek dan berantakan, disambut dengan senyuman manis,“Silahkan masuk”dan Ibunya memberikan dua buah kopi cappucino kotak dingin untuk kita, pilihannya memang sangat tepat dengan mata kami yang sangat ngantuk dan juga perasaanku yang udah nggak enak banget sama Nana. “Mana suratnya?”Aku pun segera meletakkan satu lembar kertas HVS di meja dan hanya beberapa detik, beliau membubuhkan tanda tangannya. Mungkin kalau ku hitung dari mulai beliau mengambil pena, menandatangani, hanya sepuluh detik, dan ku lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.00.
Untuk mendapatkan tanda tangan beliau kita udah menghabiskan waktu kurang lebih delapan jam, fine. Aku sih nggak protes, it’s oke, tapi itu tadinya, sebelum Ibunya ngomong “Saya mau siap-siap ke kampus nih, tadi saya mau beritahu kamu kalau saya mau ke kampus sore ini, tapi kamu udah keburu sms kalau kamu mau berangkat kesini, makanya saya tidak ngabarin kamu, besok juga saya ke kampus.” Ibunya ngomong dengan santai, aku nyesek, mau nangis rasanya. “Temen kamu baik ya, mau nemenin kamu kesini.” Tambah beliau, yang hanya ku jawab dengan anggukan, dan senyum yang dipaksakan. Abisnya seluruh energi udah ku kerahkan untuk nahan air mata. Kita juga mau ngejar ke hotel untuk ketemu mamanya Nana, kita segera pamit. Sekitar jam 15.00an mamanya Nana harus berangkat ke bandara, kita naik ojek dan  berdiri di dekat jembatan menunggu angkot, matahari lagi terik-teriknya juga. Di dekat jembatan, aku masih menggengam bungkus kopi dan memasukkan ke tas, “Kok nggak dibuang Wik?”Tanya Nana, “Mau ku simpan di  museum”, jawabku dengan nada kesal. Nana cukup mengerti, “Aku juga simpan bungkus punyaku ah, kenang-kenangan pengalaman hari ini”, dia menimpali dengan nada bercanda. Tapi aku nangis, karena andai aja aku tau ibunya ngasitau bakal ke kampus, atau besoknya juga Ibunya bakal ke kampus aku nggak bakal merasa nggak enak banget sama Nana, drama hari ini nggak perlu ada, tapi memang ibunya juga nggak tau sih perjuangan kita sampai ke tempat beliau.
Dan angkot yang kita tunggu tiba, “Yuk, naik!”Nana, mengajakku dengan hati-hati, di angkot ada kan “kursi tempel”, itu loh kursi paling dekat ke pintu, dan dari sini kita bisa melihat semua penumpang lainnya, Nana duduk bersamaan dengan penumpang lainnya, sementara aku duduk di kursi di dekat pintu itu. Dan akhirnya aku juga nggak bisa gengsian lagi, aku nggak sanggup nahan mataku yang sudah semakin panas, aku tau sekali kedip, pasti air mataku bakal keluar dan akhirnya, jadilah. Aku nangis, menatap Nana yang duduk di kursi ujung., “Na, maaf ya jadi lama kali kita biar ketemu sama Inanguda itu,” Kalo dari adat Batak, aku manggil inanguda sama mamanya Nana. Kacau, air mataku juga udah turun semakin deras, otakku udah nggak bisa ngebedain mana angkot mana kosan. “Kalo Mbanya mau ke kampus, ngapain coba aku disuruh datang ke rumah. tau nggak Na, dari tadi kita mondar-mandir aku ngerasa nggak enak banget samamu, jadi lama banget kita nyampe ke hotel, maaf ya Na,” aku juga udah nggak paham aku ngomong apa aja, Nana hanya menatapku, menggerakkan jari telunjukknya ke arah mulut, bahasa isyarat biar aku berhenti ngomong, dan dia mengangguk sambil tersenyum. Nana berdiri dari tempat duduknya dan itu kode kalau kami udah harus turun dari angkot untuk naik angkot berikutnya. “Na, kok aku merasa mereka ngeliatin kita ya?”, Aku bingung. “Memang mereka ngeliatin kita”, Nana tertawa dengan sangat kencang, setelah kita berdiri nungguin angkot. “Wik, maaf tapi tadi itu kamu curhat ke satu angkot loh, waktu kamu cerita tadi itu bahkan nggak ada yang ngomong, mereka semua ngeliatin kamu. Aku pengen bilang samamu, kamunya nangis sambil ngucek-ngucek mata, gimana kamu mau lihat ke aku. Trus, trus ekspresi mereka semua tadi pada keliatan kasian gitu sama kamu Wik. Sama sekali nggak ada yang ngomong di angkot.”Akhirnya aku ketawa sekencang-kencangnya, Nana juga. Setelah kita sampai di hotel, beban hari itu terasa lenyap.
Kita ketemu sama mamanya Nana, “Iyaaa Ma, maaflah, aku harus ngajar dua anak privat hari ini, nggak bisa dicancel, jadinya baru bisa nyampe segini.” Aku tersenyum. Tapi, thanks Godnya, mamanya Nana nggak marah-marahin kita, padahal kita udah sama-sama ketakutan, soalnya beberapa puluh kali ditelpon sama inanguda itu. Kita disuruh makan, ya udah mumpung makan enak gratisan kita langsung ngambil hampir semua jenis makanan. Kita juga baru sadar kalau kita benar-benar kelaparan. Setelah kita makan, kita ikut ke bandara mengantar mamanya Nana dan juga Gerrard, adiknya Nana yang akan pulang ke Medan untuk liburan juga. Sesampainya di bandara, kita juga baru sadar kalau kita sangat haus, dan harga minuman di bandara memang mahal kan, mau minta sama mamanya Nana, nanti sayang, jatah ongkos kita pulang ke Depok dipotong, “Haus ya Wik”, “banget”, jawabku dan tiba-tiba Gerrad bilang kalau dia lapar dan minta kita nemenin dia makan, kita bilang mau nemenin asalkan ditraktir minum. Akhirnya, minum gratis juga.
Setelah Gerrard dan mamanya Nana mau masuk ke ruang tunggu, aku dan Nana pun mencari bus yang menuju ke pasar Minggu. Ada aja kalanya bus pasar minggu ini berasa seperti apartemen dengan AC, kita melepas rasa capek hari ini disana, nggak peduli dengan macetnya Jakarta ini, karena kita tertidur dengan sangat pulas, dan terbangun ketika sudah sangat dekat dengan terminal pasar minggu. Pengalaman hari ini ternyata hanya beberapa scene drama sebelum sidang dan wisuda, karena pengalaman hari ini disusul beberapa pengalaman sedih, sedih, lucu dalam menyelesaikan tugas sakral ini. Malamnya aku nelpon mama dan cerita semua pengalaman hari itu, “Ah, nggak apa-apanya itu, namanya perjuangan, lagian mana tau-tau dosenmu usaha kalian cari rumahnya, gitunya namanya berjuang. Lagian biar kau syukuri wisudamu itu boru.” Dan aku pun setuju dengan mamaku. Toh, kalau nggak ada pengalaman ini, aku nggak bakal diingetin lagi, kalo mahasiswa itu nggak cuma perkara kecerdasan akademis, tapi juga kecerdasan emosi. Nggak ingat juga, kalo Tuhan itu tetep sediain orang-orang yang bakal bantu ngelewatin masa-masa yang keliatan nggak enak.Dan hanya karena prosesnya yang nggak gampang wisuda itu rasanya berharga banget.