Lagi musimnya
orang-orang sidang, di timeline sosial media, banyak banget yang up load foto selesai sidang. Liat
fotonya keliatan fun banget, dan keren banget. Tapi aku
yakin aja, memperjuangkan itu nggak sefun
kelihatannya sih. Apalagi yang namanya
ngerjain laporan sakral, skripsi. Secara keseluruhan perjalanan ngerjain skripsi
perjuangan banget,buat mahasiswa yang keseringan SKS seperti aku ini, persiapan
UAS hanya tiga jam sebelum ujian, ngerjain tugas yang udah dari kapan dikasi
dosen, baru H-1 mulai ngerjainnya, tapi yang namanya skripsi mana bisa
digituin, trus susah banget juga, mengubah kebiasaan SKS yang sudah mendarah
daging selama 7 semester di semester terakhir. Tapi, entah gimana, akhirnya jadi
juga skripsi itu.
Buatku mengurusi
administrasi sidang adalah moment yang paling bikin deg-degan, menguras
kesabaran, menegangkan, dan lucu. Okey, jadi kalau di di Fakultas Psikologi kita
harus meminta tanda tangan Pembimbing Akademik (PA) kita, dosen penguji
untuk keperluan administrasi, sebelum sidang. Waktu itu ada gosip-gosip kalo
PAku bakal pergi ke luar negeri dalam waktu dekat ngantarin Kelompok Peminatan
(KP) tari, kaget banget, pantesan aja beberapa kali lewat depan ruangan
beliau, nggak pernah ketemu. Teman-teman lain yang satu PA udah pada sidang di
gelombang pertama dan kedua, aku sih sidang gelombang terakhir. Aku agak
kewalahan ngejar sidang di periode awal, karena teori penelitianku, lumayan
susah dapatnya dan susah juga nerjemahinnya, ya udah pokoknya dari berempat teman satu
PA, aku doang yang sidang di gelombang terakhir, jadi mereka udah pada minta
tanda tangan PA sebelumnya. Akhirnya, aku mengirimkan pesan kepada dosen PA,
syukurnya beliau belum berangkat ke luar negeri dan aku dikasi alamat rumahnya
dan minta besoknya aku yang datang ke rumah beliau.
Malamnya, aku
harus memperbaiki bagian pengolahan data, jadi mesti skoring ulang hasil tes
dan aku begadang sama Nana,volunteer sejati :D sahabat satu kosan. Sewaktu
skoring itu, aku berani-beraniin nanya ke Nana, “Na, besok ada kegiatan nggak?
Temeni aku ke Bekasi dong Na.” Kataku dengan wajah memelas, bukan cuma karna
nggak enak lagi, soalnya dia udah banyak banget bantuin aku, ditambah kita
berdua memang udah ngantuk, itu udah subuh. Dan aku baru tau, ternyata
mamanya Nana lagi di Jakarta, nginap di salah satu hotel di Jakarta, dan
besoknya memang langsung balik ke Medan. “Aku bisa Wik, tapi kita pagi-pagi
kesana ya, abis itu kita jumpain mamaku ya, sekalian nganterin mamaku ke
bandara.” Aku pun mengangguk tanda setuju.
Karena
menghitung skor hasil dari kuesioner itu kita nggak tidur sama sekali, jam 04.30
kita mulai siap-siap dan sarapan di salah satu warung mie dan bubur ayam di dekat kosan. Sebenarnya kita
sama-sama buta arah. Selama 3,5 tahun di Depok paling juga jalan ke Jakarta,
sekitaran Depok, dan Bogor. Kita sama-sama pernah ke Bekasi sih, tapi bisa
dihitung jari berapa kalinya, dan kalo aku, ke tempat saudara, tapi itu juga
dijemput. Setelah nanya-nanya ke banyak sumber, kita tau rutenya kita gimana.
Rute pertamanya adalah Depok- Jalan Baru - Bekasi. Dan petualangan ini pun
dimulai, dari Depok kita langsung naik angkot menuju Jalan Baru, dari sana kita
akan naik bus menuju Bekasi. Kita duduk di bangku paling depan, deket supir. Karena
kita sama sekali nggak tidur satu harian, ngantuknya luar biasa. Kalau nggak
lupa, ini pertama kalinya naik angkot sepagi ini, 05.00 perjalanan ini dimulai. Jadi jelaskan, nggak enaknya
jadi jomblo lokal, kemana-mana berjuang sendiri, abaikan! Biasanya kita selalu
punya banyak topik untuk diomongin, tapi kali ini ngeblank, kita hanya asik berjuang untuk nahan kantuk yang semakin
menjadi. Apalagi efek udara pagi dari jendela angkot yang berjalan dengan
kenceng, belum macet karena masih subuh, membuat suasana cocok banget untuk
tidur. Aku ngeliatin Nana di sampingku, udah tidur pulas, untungnya masih bisa
dibangunin setelah kita sampai di Jalan Baru.
Berhubung
kita nanyanya ke sesama orang rantau, dan penjelasan di google juga nggak gitu
bantu, kita juga baru tau kalo ternyata ada dua bus yang akan menuju Bekasi,
Bekasi Timur dan Bekasi Barat. “Memangnya mau ke Bekasi mana Mba?” Kita
sama-sama hopeless, nggak paham mau
ngasi jawaban apa. Kita nyebut nama perumahan yang tertera di pesan dari dosen
PA. Bapaknya juga nggak tau kita bakalan naik bis yang mana kalau mau menuju
perumahan itu. Kita berdua juga memang ga paham, tapi memang udah biasa
tersesat, jadinya biasa aja. Akhirnya kita liat ada bapak-bapak yang jualan
tissue, minuman botol,kita nyamperin bapaknya dan nanya arah.“Oh, naik yang
Bekasi Barat Mba, nanti turun di Mega Mall, itu pertengahan Mba, sebelum sampai
ke terminal Bekasi.” Kita pun tersenyum merasa menemukan solusi untuk satu
masalah pertama, tanpa kita sadari masih banyak masalah lain yang menanti di
depan. Pertama, kita juga sama-sama nggak tau Mega Mall dimana. Kita melihat ke arah jalan raya dan bus yang
bertuliskan tujuan ke Bekasi barat udah muncul, tapi masih ngetem. Males masuk
ke dalam bis, kita berdua pun duduk di pinggir jalan raya,“Nggak usah takut ah,
kita nggak cocok kok jadi gembel. Kita cantik kok.” Kalimat dari Nana sedikit
menghibur tapi kalo aku ngeliatin kondisi kita, nggak setuju sih.
Setelah duduk
beberapa lama, kita akhirnya milih masuk ke bus dan syukurnya masih dapat
tempat duduk, kita juga baru tau kalo pagi-pagi itu nggak cuma jalanan yang
macet parah, angkutan umum juga sesak banget. Untung aja, kita nggak duduk
lebih lama di pinggir jalan, kalo nggak kita juga bakal dapat jatah kursi.
Banyak banget juga yang berdiri, bahkan buat berdiri aja kekurangan tempat. Sewaktu kernetnya minta ongkos kita ngomong,
“Pak, nanti kalau udah deket Mega Mall tolong teriakin ya Pak, soalnya kita
nggak tau Mega Mall dimana.”, “Iya Mba, biasanya memang diteriakin kok.” Kita
bernafas lega, karena merasa nggak akan tersesat. Kita duduk dan sama seperti
di angkot, kita udah terlalu capek untuk bercerita, mata udah berat banget,
kita pun tidur. Tiba-tiba aku terbangun dan memang busnya udah nggak sepadat
tadi, tapi masih ada beberapa orang yang nggak kebagian duduk, tapi sekarang
mereka sudah bisa berdiri dengan lebih manusiawi. “Mas ini udah sampai Mega
Mall belum?” tanyaku kepada cowok yang berdiri di sebelahku.”, “Belum kok
Mba.”Jadi aku juga merasa lega dan tidur lagi.
Aku juga
nggak paham, yang terjadi berikutnya, yang aku ingat, tidurku nyaman banget,
Nana juga sama, sampai tiba-tiba ada seseorang yang ngebangunin kita, “Mba, Mba
mau kemana? Kita berdua terbangun dan sekarang hanya empat orang yang ada di bus. Pak supir, kernet, aku dan
Nana. Nana entah karena baru bangun tidur, sadar nggak sadar dengan ucapannya,
dia bilang “ TAPI KAN PAK KITA UDAH MINTA DITERIAKIN KALAU UDAH SAMPAI DI MEGA
MALL.”, Nada suara Nana agak meninggi, aku takut bapaknya malah ikutan marah
dan Bapaknya pun bilang, untungnya dengan suara pelan, “Kan, tadi saya juga
teriak Neng! Saya kira neng berdua udah turun”,“Maaf ya Pak, makasih Pak.” Aku
langsung ngomong gitu, bener dong bapaknya, bapaknya kan nggak tau kita yang
mana diantara sebegitu banyak penumpang. Aku menatap Nana, dia tersenyum, “Maaf
ya Pak!” Ucapnya ke bapak kernet yang baik hati. Nana juga mungkin baru sadar. Dari
terminal Bekasi, kita naik angkot lagi ke Mega Mall, setelah itu nanya Bu Dosen,
kita akan kemana, nah kita disuruh naik angkot sekali lagi, setelah turun dari angkot
kita naik ojek dan muter-muter aja di kompleks perumahan itu. Nana mulai nggak
sabar, “Bapak, kok bisa nggak tau sih Pak?”, tanyanya dengan nada kencang kepada Bapak ojek. Wajar dia kesal karena mamanya juga udah bolak-balik nelpon. Dan
itu udah hampir pukul 12.00, aku juga udah merasa bersalah banget sama Nana,
nggak enak banget rasanya. Setelah muter-muter, nelpon Bu dosen berkali-kali, akhirnya
kita sampai di rumah Ibu dosen. Kita udah mutarin kompleks perumahan hampir
tiga kali, padahal rumah ibunya deket ke portal masuk perumahan. Kita yang udah
capek dan berantakan, disambut dengan senyuman manis,“Silahkan masuk”dan Ibunya
memberikan dua buah kopi cappucino kotak dingin untuk kita, pilihannya memang sangat
tepat dengan mata kami yang sangat ngantuk dan juga perasaanku yang udah nggak enak banget sama Nana. “Mana suratnya?”Aku pun segera meletakkan satu
lembar kertas HVS di meja dan hanya beberapa detik, beliau membubuhkan tanda
tangannya. Mungkin kalau ku hitung dari mulai beliau mengambil pena,
menandatangani, hanya sepuluh detik, dan ku lirik jam dinding sudah menunjukkan
pukul 13.00.
Untuk
mendapatkan tanda tangan beliau kita udah menghabiskan waktu kurang lebih
delapan jam, fine. Aku sih nggak protes, it’s oke, tapi itu tadinya, sebelum
Ibunya ngomong “Saya mau siap-siap ke kampus nih, tadi saya mau beritahu kamu kalau
saya mau ke kampus sore ini, tapi kamu udah keburu sms kalau kamu mau berangkat
kesini, makanya saya tidak ngabarin kamu, besok juga saya ke kampus.” Ibunya
ngomong dengan santai, aku nyesek, mau nangis rasanya. “Temen kamu baik ya, mau
nemenin kamu kesini.” Tambah beliau, yang hanya ku jawab dengan anggukan, dan senyum yang dipaksakan. Abisnya seluruh energi udah ku kerahkan untuk nahan air mata. Kita juga mau
ngejar ke hotel untuk ketemu mamanya Nana, kita segera pamit. Sekitar jam 15.00an mamanya Nana harus berangkat ke bandara, kita naik ojek dan berdiri di dekat jembatan menunggu angkot, matahari lagi
terik-teriknya juga. Di dekat jembatan, aku masih menggengam bungkus kopi dan
memasukkan ke tas, “Kok nggak dibuang Wik?”Tanya Nana, “Mau ku simpan di museum”, jawabku dengan nada kesal. Nana
cukup mengerti, “Aku juga simpan bungkus punyaku ah, kenang-kenangan pengalaman
hari ini”, dia menimpali dengan nada bercanda. Tapi aku nangis, karena andai
aja aku tau ibunya ngasitau bakal ke kampus, atau besoknya juga Ibunya bakal ke
kampus aku nggak bakal merasa nggak enak banget sama Nana, drama hari ini nggak
perlu ada, tapi memang ibunya juga nggak tau sih perjuangan kita sampai ke
tempat beliau.
Dan angkot
yang kita tunggu tiba, “Yuk, naik!”Nana, mengajakku dengan hati-hati, di angkot
ada kan “kursi tempel”, itu loh kursi paling dekat ke pintu, dan dari sini kita
bisa melihat semua penumpang lainnya, Nana duduk bersamaan dengan penumpang
lainnya, sementara aku duduk di kursi di dekat pintu itu. Dan akhirnya aku juga
nggak bisa gengsian lagi, aku nggak sanggup nahan mataku yang sudah semakin
panas, aku tau sekali kedip, pasti air mataku bakal keluar dan akhirnya,
jadilah. Aku nangis, menatap Nana yang duduk di kursi ujung., “Na, maaf ya jadi
lama kali kita biar ketemu sama Inanguda itu,” Kalo dari adat Batak, aku manggil
inanguda sama mamanya Nana. Kacau, air mataku juga udah turun semakin deras,
otakku udah nggak bisa ngebedain mana angkot mana kosan. “Kalo Mbanya mau ke
kampus, ngapain coba aku disuruh datang ke rumah. tau nggak Na, dari tadi kita
mondar-mandir aku ngerasa nggak enak banget samamu, jadi lama banget kita
nyampe ke hotel, maaf ya Na,” aku juga udah nggak paham aku ngomong apa aja, Nana
hanya menatapku, menggerakkan jari telunjukknya ke arah mulut, bahasa isyarat
biar aku berhenti ngomong, dan dia mengangguk sambil tersenyum. Nana berdiri
dari tempat duduknya dan itu kode kalau kami udah harus turun dari angkot untuk
naik angkot berikutnya. “Na, kok aku merasa mereka ngeliatin kita ya?”, Aku
bingung. “Memang mereka ngeliatin kita”, Nana tertawa dengan sangat kencang,
setelah kita berdiri nungguin angkot. “Wik, maaf tapi tadi itu kamu curhat ke satu
angkot loh, waktu kamu cerita tadi itu bahkan nggak ada yang ngomong, mereka
semua ngeliatin kamu. Aku pengen bilang samamu, kamunya nangis sambil
ngucek-ngucek mata, gimana kamu mau lihat ke aku. Trus, trus ekspresi mereka
semua tadi pada keliatan kasian gitu sama kamu Wik. Sama sekali nggak ada yang
ngomong di angkot.”Akhirnya aku ketawa sekencang-kencangnya, Nana juga. Setelah
kita sampai di hotel, beban hari itu terasa lenyap.
Kita ketemu
sama mamanya Nana, “Iyaaa Ma, maaflah, aku harus ngajar dua anak privat hari
ini, nggak bisa dicancel, jadinya baru bisa nyampe segini.” Aku tersenyum. Tapi,
thanks Godnya, mamanya Nana nggak marah-marahin kita, padahal kita udah
sama-sama ketakutan, soalnya beberapa puluh kali ditelpon sama inanguda itu.
Kita disuruh makan, ya udah mumpung makan enak gratisan kita langsung ngambil
hampir semua jenis makanan. Kita juga baru sadar kalau kita benar-benar kelaparan. Setelah kita makan, kita ikut ke bandara mengantar mamanya Nana
dan juga Gerrard, adiknya Nana yang akan pulang ke Medan untuk liburan juga.
Sesampainya di bandara, kita juga baru sadar kalau kita sangat haus, dan harga
minuman di bandara memang mahal kan, mau minta sama mamanya Nana, nanti sayang,
jatah ongkos kita pulang ke Depok dipotong, “Haus ya Wik”, “banget”, jawabku
dan tiba-tiba Gerrad bilang kalau dia lapar dan minta kita nemenin dia makan,
kita bilang mau nemenin asalkan ditraktir minum. Akhirnya, minum gratis juga.
Setelah Gerrard
dan mamanya Nana mau masuk ke ruang tunggu, aku dan Nana pun mencari bus yang
menuju ke pasar Minggu. Ada aja kalanya bus pasar minggu ini berasa seperti
apartemen dengan AC, kita melepas rasa capek hari ini disana, nggak peduli
dengan macetnya Jakarta ini, karena kita tertidur dengan sangat pulas, dan
terbangun ketika sudah sangat dekat dengan terminal pasar minggu. Pengalaman
hari ini ternyata hanya beberapa scene drama sebelum sidang dan wisuda, karena pengalaman hari ini disusul beberapa pengalaman sedih, sedih, lucu dalam menyelesaikan tugas
sakral ini. Malamnya aku nelpon mama dan cerita semua pengalaman hari itu, “Ah,
nggak apa-apanya itu, namanya perjuangan, lagian mana tau-tau dosenmu usaha kalian
cari rumahnya, gitunya namanya berjuang. Lagian biar kau syukuri wisudamu itu
boru.” Dan aku pun setuju dengan mamaku. Toh, kalau nggak ada pengalaman ini,
aku nggak bakal diingetin lagi, kalo mahasiswa itu nggak cuma perkara
kecerdasan akademis, tapi juga kecerdasan emosi. Nggak ingat juga, kalo Tuhan
itu tetep sediain orang-orang yang bakal bantu ngelewatin masa-masa yang
keliatan nggak enak.Dan hanya karena prosesnya yang nggak gampang wisuda itu rasanya berharga banget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar