Mereka
bilang cinta itu buta, buat aku cinta itu melek (malah banget). Kalo yang
namanya cinta itu “buta” kenapa orang butuh pertimbangan untuk memutuskan
memulai hubungan romantis? Kenapa orang mesti berusaha “memantaskan diri”? Dan
kenapa, kebanyakan kopi darat membuat orang “ngilang”? Khusus buat pertanyaan
terakhir, selama ini orang bilang itu pasti karena penampilan fisik yang nggak
memenuhi harapan. Aku punya rasa pengen tau yang besar, apalagi buat hal-hal
yang kata orang “nggak penting”. Tapi, itu kenapa kadang kuliah Psikologi itu
seru, ditengah banyak “siksaan” hapalan, teori dan hitungan, #maaf jadi curhat.
Belajar Psikologi bisa membuat kekepoan tersalur lewat modus yang kelihatan
ilmiah. Misalnya nih mata kuliah Psikologi Sosial, membuat essay, “Apakah penampilan fisik atau karakter yang
paling berpengaruh dalam memulai hubungan romantis?” Terus wawancara dong,
“Sas, menurut lo penampilan atau karakter, mana yang paling ngaruh buat cowok
kalo mau ngedekatin cewek ?”, “Wik, kalo misalnya karakter yang dilihat
cowok-cowok itu, mungkin sekarang gue tuh tinggal tunjuk, nah lo tau kan, cv
kehidupan cinta gue.” Sasi menjawab dengan penuh emosi. Pertanyaan yang sama,
aku tanyain ke Cia, “karakter dong Wik, masalahnya penampilan itu kan
subjektif.” Trus aku nanya lagi, “tapi kan Cia, ada hal-hal yang kelihatan
mutlak, misalnya berat badan, tinggi badan.”, “POKOKNYA, GUE GA MAU BERDEBAT,
BUAT GUE KARAKTER.”dan dia ninggalin aku naik lift ke lantai 3, sementara
tadinya kita sepakat naik lewat tangga aja. Trus liatkan, nggak selamanya juga
kekepoan bermoduskan “ngerjain tugas kampus” ini mulus. Sebenarnya aku nggak
mau berdebat. Seandainya aja pengalaman kopi darat pertama udah terjadi saat
aku lagi ngerjain Psikologi Sosial, mungkin aku nggak butuh wawancara, cuma
akan menulis ini.
Aku
kenal dia dari sosmed, tapi kita nggak pernah saling ngomong, dan aku juga
nggak pernah tau dia sebelumnya. Tapi dia tau aku, setelah cerita-cerita, aku
jadi tau rumahnya dia dimana. Kita satu kampung. Suatu saat kamu lagi bosan
dengan aktivitas dan ketemu orang yang enak diajak ngomong, dia lucu, dan terlihat
cerdas, oke itu udah cukup buat aku untuk rela menghabiskan waktu istirahat
malamku dengan aktivitas seperti mikirin dia, bales sms atau chatnya dia, dan
kepoin dia. Rasa suka itu memang hebat. Aku yang cuek tiba-tiba berubah jadi
cewek yang penuh perhatian, aku yang sama sekali nggak multi tasking tiba-tiba bisa komunikasi sama dia sambil ngerjain
tugas, komunikasi sama dia sambil persiapan ujian, kerenkan! hanya seandainya
itu juga bisa membuat aku jadi nggak rajin makan. Dia sudah beberapa kali
sebenarnya ngajakin ketemuan, tapi aku tolak, katanya cewek itu harus bisa
bikin penasaran, itu alasannya, padahal aku juga pengen.
Suatu
waktu, setelah kelar UAS, dan dia kembali nawarin buat jalan-jalan, buang
stress, entah alam juga lagi berbaik hati membuat kami ada dalam kondisi yang
sama. Sebenarnya aku pengen banget, dulu aku masih polos banget, aku pun nanya
mama, dan jawabannya “Jangan sampai mau, siapa tau dia tukang tipu, nanti malah
kau dibunuh, dibawa entah kemana, dijual. “ Mama imajinasinya semakin parah,
jadi langsung ku jawab aja, “Oke Ma, aku nggak jadi pergi.” Nana, sahabatku,
satu kosan tapi fakultas berbeda, waktu itu dia masih UAS tapi msih
sempat-sempatin nanya “Wik, gimana? Jadi jalan nggak?”
“Kata
mamaku jangan sampai pergi. Siapa tau dia pembunuh, penipu.”
Tiba-tiba
Nana nelpon, “Kok nggak balas sms Wi? Gimana, gimana?” Aku ngejelasin ke Nana
tentang mama yang ngelarang dengan semua keparnoannya, dia malah ngakak, aku
juga jadi gagal melankolis, jadinya ketawa. “Ya udah, aku lanjut dulu ya, masih
mau ujian bentar lagi.” Selesai ngomong dari Nana, aku mau ngecek hp, pesan
tadi aku kirim ke siapa dan , syok ada sms dari dia,
“Dek,
ga nyangka gitu banget kamu mikirnya, kecewa sih dek.” Itu aja, dan aku udah
nggak paham mau bilang apa, mungkin yang pasti aku akan kehilangan teman
chatting, teman ngobrol, kegiatan begadang yang akhirnya selalu ku tungu, tapi
yang paling sedih itu, aku kehilangan harapan, harapan diam-diam tentang keinginan
untuk lebih dari teman. Sayang sih, tapi tiba-tiba hp berdering, ada panggilan
dari dia, “Dek, kita ketemu di Depok aja gimana? Terserah kamu aja mau dimana,
entar kalo emang aku bahaya, kan kamu bisa langsung pulang Dek. “ Dia nggak
beneran kesal ternyata, aku makin suka.
Akhirnya kita sepakat ketemuan di
sebuah mall di Depok, deket banget sih dari kosan aku. “Dek, gimana nih aku
jemput ke kosan?”
“Nggak
usah, Bang! Langsung ketemu di mallnya aja”, jawabku.
“Tuh
kan, kamu pasti masih mikir aku bahaya.” Katanya sambil tertawa kecil.
Harapanku untuk lebih dari teman, semakin besar. Kita janjian pukul 17.00 dan
sebenarnya ini malu-maluin banget, pukul 14.00 aku udah ada di mall itu, aku tau
sih dandanan yang udah diusahakan maksimal itu bisa berubah menyedihkan dalam
waktu tiga jam, tapi aku pengen duluan ada di tempat janjian. Kelakuaku juga
sangat memalukan, jadi aku pergi ke food
court, minum, buka net book dan MENULIS DOA, dia juga membuat aku jadi
pendoa yang lebih baik. Bolak-balik ke toilet demi mastiin kalo penampilanku
nggak menyedihkan. Jalan-jalan, lebih tepatnya sih mondar-mandir sendirian,
sangking gugupnya, sangking aku juga nggak tau mau ngelakuin apa lagi untuk
menjalani waktu yang rasanya lamaaaaaa banget geraknya.
Dari kosan, aku sebenarnya udah milih
baju yang ku anggap terbaik, tapi liat-liat ke toko baju, aku merasa satu buah
t-shirt yang didisplay bakal
keliahatan lebih oke kalo ku pakai, akhirnya aku beli dan pakai. Setenga jam
menuju pukul 17.00 yang bisa ku lakukan hanya duduk dan memandangi layar HP,
setelah mengetik pesan,
“Bang
aku udah nyampe ya.”
Beberapa
menit kemudian aku dapat pesan baru, “Kok cepat banget dek? :D aku juga, tapi
masih di luar, aku yang kesana apa gimana?”
Tadinya
kita udah sepakat untuk makan di luar aja, soalnya makanan favorit kita nggak
ada di dalam mall. Aku bilang, aku aja yang akan keluar. Turun dari lantai tiga
ke lantai dasar, sangking gugupnya, aku nggak mau pake lift, aku juga nggak
langsung loncat dari atas gedung, ntar nyampenya kecepatan, jadinya aku milih
eskalator. Seandainya tau tangga dimana, mungkin aku juga bakal milih tangga.
Sampai di depan, ada beberapa orang yang potensial jadi orang yang aku cari,
lumayan mirip dengan foto di dp media sosialnya. Tiba-tiba ada telpon masuk,
aku angkat dan aku lihat sekitar, mastiin kalo cowok yang ku tunggu adalah
cowok dengan t-shirt coklat dan celana jeans yang robek dimana-mana. Aku nggak
paham, apa harus nyalahin aplikasi edit foto, yang terlihat di dp itu sangat
jauh berbeda dengan cowok yang sekarang berdiri di hadapanku. Aku hanya berani
ngomong dalam hati, tapi dia jujur banget.
“Dek, kok kamu gemuk, chubby banget
dek, nggak mirip sama dp kamu.”
Itu
kalimat sapaan pertamanya, aku syok dan harapanku semakin menipis. “Itu dp awal
banget jadi Maba Bang, soalnya males ganti-ganti dp. “Aku sadar aku bohong,
tapi aku menolak untuk ngomong, “Iya Bang, males foto dengan badan yg udah
segini berat.” Ternyata itu hanya pembukaaan untuk kejutan berikutnya, kita ke
parkiran motor dan ternyata motornya dia salah satu model motor gede yang aku
lupa merknya apa. Gimana orang dengan tinggi badan seperti aku bisa nyaman naik
motor gituan. Pengen nangis, pengen pulang ke kosan, pengen pura-pura pingsan,
pengen lari diam-diam dari parkiran, naik angkot ke kosan dan matiin hp. Nggak
satupun diantaranya yang ku lakukan, malah sekarang aku udah ada di
boncengannya.
Malam minggu, aku bersama puluhan
atau mungkin ratusan orang lainnya yang boncengan di sepanjang jalan Margonda
Raya, dan itu macet banget. Gerak dua meter berhenti lebih dari lima menit,
nggak tau juga hitunganku pas , soalnya waktu itu juga sibuk banget ngatur
keseimbangan, aku nggak mau kalau sampai bersentuhan dengan dia, aku merasa
nggak enak aja. Sementara orang-orang lain, di lampu merah saat motor berhenti,
kebanyakan cewek merangkul cowokya dengan mesra, atau ada yang tertawa dan
terlihat sangat bahagia. Sementara kami hanya saling diam. Akhirnya kami tiba
di tempat makan itu, di pinggir sebuah danau buatan, lampunya remang-remang,
itu pasti bakalan romantis banget, seandainya aja dengan pacar. Kita memesan
makan dan setelah terhidang, kita sibuk makan, mungkin perjalanan tadi sangat
menguras energi, Sisa-sisa pikiran positif yang ku punya, berpikir kalau kita
hanya saling gugup. Tapi selesai makan, dia menyalakan rokoknya. Aku nggak suka
cowok perokok. Aku bilang sama dia kalau aku nggak nyaman dengan rokoknya. Dia respect sih, langsung matiin rokoknya,
dan dia bilang, “Aku ya Dek, mending nggak usah punya pacar kalo dia nggak bisa
nerima aku merokok. Seriusn.”
Itu
maksudnya apa? Aku hanya menanggapi dengan senyum, entah senyum buat apa.
Mungkin untuknya dan juga diriku sendiri, tersenyum untuk harapan yanng sempat ada
di balik pertemuan ini yang memang udah nggak mungkin jadi kenyataan. Malam itu
berakhir, aku diantarnya ke kosan. Ana menanyakan dengan penuh semangat, dan
aku hanya menggeleng, dia mengerti, kalau aku juga lagi nggak pengen cerita
saat itu. Seandainya tugas esai Psikologi Sosial, ada setelah kejadian itu. Aku
akan menjawab nggak bisa dibedain, dua-duanya penting, yang membuatnya berbeda
adalah apa yang menjadi prioritas buat seseorang itu. Dan, kenapa kopi darat
(sering ) membuat orang ngilang? Nggak hanya alasan fisik, bisa juga karena
karakter.