Selasa, 30 Juni 2015

KENAPA KOPI DARAT SERING MEMBUAT ORANG "NGILANG"?



Mereka bilang cinta itu buta, buat aku cinta itu melek (malah banget). Kalo yang namanya cinta itu “buta” kenapa orang butuh pertimbangan untuk memutuskan memulai hubungan romantis? Kenapa orang mesti berusaha “memantaskan diri”? Dan kenapa, kebanyakan kopi darat membuat orang “ngilang”? Khusus buat pertanyaan terakhir, selama ini orang bilang itu pasti karena penampilan fisik yang nggak memenuhi harapan. Aku punya rasa pengen tau yang besar, apalagi buat hal-hal yang kata orang “nggak penting”. Tapi, itu kenapa kadang kuliah Psikologi itu seru, ditengah banyak “siksaan” hapalan, teori dan hitungan, #maaf jadi curhat. Belajar Psikologi bisa membuat kekepoan tersalur lewat modus yang kelihatan ilmiah. Misalnya nih mata kuliah Psikologi Sosial, membuat essay, “Apakah penampilan fisik atau karakter yang paling berpengaruh dalam memulai hubungan romantis?” Terus wawancara dong, “Sas, menurut lo penampilan atau karakter, mana yang paling ngaruh buat cowok kalo mau ngedekatin cewek ?”, “Wik, kalo misalnya karakter yang dilihat cowok-cowok itu, mungkin sekarang gue tuh tinggal tunjuk, nah lo tau kan, cv kehidupan cinta gue.” Sasi menjawab dengan penuh emosi. Pertanyaan yang sama, aku tanyain ke Cia, “karakter dong Wik, masalahnya penampilan itu kan subjektif.” Trus aku nanya lagi, “tapi kan Cia, ada hal-hal yang kelihatan mutlak, misalnya berat badan, tinggi badan.”, “POKOKNYA, GUE GA MAU BERDEBAT, BUAT GUE KARAKTER.”dan dia ninggalin aku naik lift ke lantai 3, sementara tadinya kita sepakat naik lewat tangga aja. Trus liatkan, nggak selamanya juga kekepoan bermoduskan “ngerjain tugas kampus” ini mulus. Sebenarnya aku nggak mau berdebat. Seandainya aja pengalaman kopi darat pertama udah terjadi saat aku lagi ngerjain Psikologi Sosial, mungkin aku nggak butuh wawancara, cuma akan menulis ini.
Aku kenal dia dari sosmed, tapi kita nggak pernah saling ngomong, dan aku juga nggak pernah tau dia sebelumnya. Tapi dia tau aku, setelah cerita-cerita, aku jadi tau rumahnya dia dimana. Kita satu kampung. Suatu saat kamu lagi bosan dengan aktivitas dan ketemu orang yang enak diajak ngomong, dia lucu, dan terlihat cerdas, oke itu udah cukup buat aku untuk rela menghabiskan waktu istirahat malamku dengan aktivitas seperti mikirin dia, bales sms atau chatnya dia, dan kepoin dia. Rasa suka itu memang hebat. Aku yang cuek tiba-tiba berubah jadi cewek yang penuh perhatian, aku yang sama sekali nggak multi tasking tiba-tiba bisa komunikasi sama dia sambil ngerjain tugas, komunikasi sama dia sambil persiapan ujian, kerenkan! hanya seandainya itu juga bisa membuat aku jadi nggak rajin makan. Dia sudah beberapa kali sebenarnya ngajakin ketemuan, tapi aku tolak, katanya cewek itu harus bisa bikin penasaran, itu alasannya, padahal aku juga pengen.
Suatu waktu, setelah kelar UAS, dan dia kembali nawarin buat jalan-jalan, buang stress, entah alam juga lagi berbaik hati membuat kami ada dalam kondisi yang sama. Sebenarnya aku pengen banget, dulu aku masih polos banget, aku pun nanya mama, dan jawabannya “Jangan sampai mau, siapa tau dia tukang tipu, nanti malah kau dibunuh, dibawa entah kemana, dijual. “ Mama imajinasinya semakin parah, jadi langsung ku jawab aja, “Oke Ma, aku nggak jadi pergi.” Nana, sahabatku, satu kosan tapi fakultas berbeda, waktu itu dia masih UAS tapi msih sempat-sempatin nanya “Wik, gimana? Jadi jalan nggak?”
“Kata mamaku jangan sampai pergi. Siapa tau dia pembunuh, penipu.”
Tiba-tiba Nana nelpon, “Kok nggak balas sms Wi? Gimana, gimana?” Aku ngejelasin ke Nana tentang mama yang ngelarang dengan semua keparnoannya, dia malah ngakak, aku juga jadi gagal melankolis, jadinya ketawa. “Ya udah, aku lanjut dulu ya, masih mau ujian bentar lagi.” Selesai ngomong dari Nana, aku mau ngecek hp, pesan tadi aku kirim ke siapa dan , syok ada sms dari dia,
“Dek, ga nyangka gitu banget kamu mikirnya, kecewa sih dek.” Itu aja, dan aku udah nggak paham mau bilang apa, mungkin yang pasti aku akan kehilangan teman chatting, teman ngobrol, kegiatan begadang yang akhirnya selalu ku tungu, tapi yang paling sedih itu, aku kehilangan harapan, harapan diam-diam tentang keinginan untuk lebih dari teman. Sayang sih, tapi tiba-tiba hp berdering, ada panggilan dari dia, “Dek, kita ketemu di Depok aja gimana? Terserah kamu aja mau dimana, entar kalo emang aku bahaya, kan kamu bisa langsung pulang Dek. “ Dia nggak beneran kesal ternyata, aku makin suka.
            Akhirnya kita sepakat ketemuan di sebuah mall di Depok, deket banget sih dari kosan aku. “Dek, gimana nih aku jemput ke kosan?”
“Nggak usah, Bang! Langsung ketemu di mallnya aja”, jawabku.
“Tuh kan, kamu pasti masih mikir aku bahaya.” Katanya sambil tertawa kecil. Harapanku untuk lebih dari teman, semakin besar. Kita janjian pukul 17.00 dan sebenarnya ini malu-maluin banget, pukul 14.00 aku udah ada di mall itu, aku tau sih dandanan yang udah diusahakan maksimal itu bisa berubah menyedihkan dalam waktu tiga jam, tapi aku pengen duluan ada di tempat janjian. Kelakuaku juga sangat memalukan, jadi aku pergi ke food court, minum, buka net book dan MENULIS DOA, dia juga membuat aku jadi pendoa yang lebih baik. Bolak-balik ke toilet demi mastiin kalo penampilanku nggak menyedihkan. Jalan-jalan, lebih tepatnya sih mondar-mandir sendirian, sangking gugupnya, sangking aku juga nggak tau mau ngelakuin apa lagi untuk menjalani waktu yang rasanya lamaaaaaa banget geraknya.
            Dari kosan, aku sebenarnya udah milih baju yang ku anggap terbaik, tapi liat-liat ke toko baju, aku merasa satu buah t-shirt yang didisplay bakal keliahatan lebih oke kalo ku pakai, akhirnya aku beli dan pakai. Setenga jam menuju pukul 17.00 yang bisa ku lakukan hanya duduk dan memandangi layar HP, setelah mengetik pesan,
“Bang aku udah nyampe ya.”
Beberapa menit kemudian aku dapat pesan baru, “Kok cepat banget dek? :D aku juga, tapi masih di luar, aku yang kesana apa gimana?”
Tadinya kita udah sepakat untuk makan di luar aja, soalnya makanan favorit kita nggak ada di dalam mall. Aku bilang, aku aja yang akan keluar. Turun dari lantai tiga ke lantai dasar, sangking gugupnya, aku nggak mau pake lift, aku juga nggak langsung loncat dari atas gedung, ntar nyampenya kecepatan, jadinya aku milih eskalator. Seandainya tau tangga dimana, mungkin aku juga bakal milih tangga. Sampai di depan, ada beberapa orang yang potensial jadi orang yang aku cari, lumayan mirip dengan foto di dp media sosialnya. Tiba-tiba ada telpon masuk, aku angkat dan aku lihat sekitar, mastiin kalo cowok yang ku tunggu adalah cowok dengan t-shirt coklat dan celana jeans yang robek dimana-mana. Aku nggak paham, apa harus nyalahin aplikasi edit foto, yang terlihat di dp itu sangat jauh berbeda dengan cowok yang sekarang berdiri di hadapanku. Aku hanya berani ngomong dalam hati, tapi dia jujur banget.
            “Dek, kok kamu gemuk, chubby banget dek, nggak mirip sama dp kamu.”
Itu kalimat sapaan pertamanya, aku syok dan harapanku semakin menipis. “Itu dp awal banget jadi Maba Bang, soalnya males ganti-ganti dp. “Aku sadar aku bohong, tapi aku menolak untuk ngomong, “Iya Bang, males foto dengan badan yg udah segini berat.” Ternyata itu hanya pembukaaan untuk kejutan berikutnya, kita ke parkiran motor dan ternyata motornya dia salah satu model motor gede yang aku lupa merknya apa. Gimana orang dengan tinggi badan seperti aku bisa nyaman naik motor gituan. Pengen nangis, pengen pulang ke kosan, pengen pura-pura pingsan, pengen lari diam-diam dari parkiran, naik angkot ke kosan dan matiin hp. Nggak satupun diantaranya yang ku lakukan, malah sekarang aku udah ada di boncengannya.
            Malam minggu, aku bersama puluhan atau mungkin ratusan orang lainnya yang boncengan di sepanjang jalan Margonda Raya, dan itu macet banget. Gerak dua meter berhenti lebih dari lima menit, nggak tau juga hitunganku pas , soalnya waktu itu juga sibuk banget ngatur keseimbangan, aku nggak mau kalau sampai bersentuhan dengan dia, aku merasa nggak enak aja. Sementara orang-orang lain, di lampu merah saat motor berhenti, kebanyakan cewek merangkul cowokya dengan mesra, atau ada yang tertawa dan terlihat sangat bahagia. Sementara kami hanya saling diam. Akhirnya kami tiba di tempat makan itu, di pinggir sebuah danau buatan, lampunya remang-remang, itu pasti bakalan romantis banget, seandainya aja dengan pacar. Kita memesan makan dan setelah terhidang, kita sibuk makan, mungkin perjalanan tadi sangat menguras energi, Sisa-sisa pikiran positif yang ku punya, berpikir kalau kita hanya saling gugup. Tapi selesai makan, dia menyalakan rokoknya. Aku nggak suka cowok perokok. Aku bilang sama dia kalau aku nggak nyaman dengan rokoknya. Dia respect sih, langsung matiin rokoknya, dan dia bilang, “Aku ya Dek, mending nggak usah punya pacar kalo dia nggak bisa nerima aku merokok. Seriusn.”
Itu maksudnya apa? Aku hanya menanggapi dengan senyum, entah senyum buat apa. Mungkin untuknya dan juga diriku sendiri, tersenyum untuk harapan yanng sempat ada di balik pertemuan ini yang memang udah nggak mungkin jadi kenyataan. Malam itu berakhir, aku diantarnya ke kosan. Ana menanyakan dengan penuh semangat, dan aku hanya menggeleng, dia mengerti, kalau aku juga lagi nggak pengen cerita saat itu. Seandainya tugas esai Psikologi Sosial, ada setelah kejadian itu. Aku akan menjawab nggak bisa dibedain, dua-duanya penting, yang membuatnya berbeda adalah apa yang menjadi prioritas buat seseorang itu. Dan, kenapa kopi darat (sering ) membuat orang ngilang? Nggak hanya alasan fisik, bisa juga karena karakter.

Minggu, 28 Juni 2015

KARENA CINTA NGGAK BISA "DIAM"



“Dulu, aku nggak suka banget samamu Wik.” Sara memulai percakapan, “Sekarang jadi suka apa makin nggak suka?”Aku tertawa, padahal sebenarnya penasaran juga, dan akhirnya nanya kenapa. Otak memutar kenangan sekitar beberapa tahun yang lalu, udah lama banget sih. Tentang seorang cowok yang dengan berat hati ku akui dia memang menarik, namanya Heru, tentu saja nama yang ku samarkan untuk mengurangi jumlah cewek yang suka sama dia. Dari zaman kami masih SMA, sudah banyak cewek yang suka sama dia, bahkan saat itu waktu kami sama-sama kuliah. Kebanyakan cewek suka sama cowok yang jago main musik, kemampuan bermusik Heru hebat. Dia tipe yang cuek dan jadi makin bikin orang super penasaran.
Aku dekat dengan Heru, karena kami dari satu SMA dan mungkin karena “omongannya yang kasar” buat orang kebanyakan, selalu lucu buatku. Waktu itu aku minum es the manis dengan ayam penyet super pedas, menu favoritku di asrama. Lagi “me time” banget, tiba-tiba segerombolan cewek datang, ngedekatin aku dan tanpa pembukaan langsung nanya, “Wik, kau pacaran ya sama Heru?”, Awalnya sih kaget, dan respon berikutnya adalah iseng. “Eh, tau darimana? Iya.“ jawabku dengan senyum sumringah, mungkin mereka merasa aku tersenyum karena bahagia dengan status “pacarnya Heru”. Bukan, ini bukan sinetron, dimana kemungkinan adegan selanjutnya, mereka membuang es teh manis ke mukaku, atau mengolesi cabe ayam penyet ke mataku, oh itu G30SPKI ya, maafkan, aku mulai berlebihan. Mereka pun berlalu setelah salah seorang dari mereka ngomong, “Nggak apa-apa, nanya aja.” Aku ketawa sambil mataku mengikuti langkah mereka dari belakang.
Sebenarnya hari itu juga aku janjian makan bareng sama Heru, tapi karena udah lapar banget, aku mesan makan duluan. Dan akhirnya Heru datang, aku senyum-senyum. “Ada yang nembak kau Wik? Sok bahagia kali hidupmu!”, aku bilang ke dia,“Eh, kalau siapa pun nanya samamu kita pacaran apa nggak, bilang iya aja ya.”Aku mengaku dosa pada Heru, termasuk kejadian barusan, dan jawabannya, “Idiot kali kau Wik!”aku malah ngakak. Dia ngomongnya memang kasar, tapi aku suka. Dia bukan orang pada umumnya. Pernah kita mau minjam leptopnya, “Heru pinjam leptop dong.”dan jawabannya adalah, “Nggak bisa, aku mau pake main game.” Biasanya orang pasti bikin alasan yang agak baguskan, “Eh, maaf aku lagi ngerjain tugas deadline.” atau,“Eh, leptopku lagi dipinjam sama temen juga, maaf ya.” Tapi dia bukan orang yang seperti itu. Mungkin itu juga yang membuat Heru semakin ditaksir cewek.
Sara mendengarkan ceritaku dengan konsentrasi penuh, “Jadi itu bohongan Wik?”aku hanya tertawa. “Padahal aku sering banget nangis karena dia. Kami sering ngomongin kau, gara-gara dia, maaf ya.” Karena Heru punya banyak pemuja rahasia, aku punya banyak penghujat rahasia. Dalam hati aku menjawab, bukan cuma dia sebenarnya. Dulu Tiara, sahabatku waktu SMA juga suka sama Heru. Sampai hampir setiap sore aku diajakin sahabatku ini ke tempat penyewaan buku komik, apa hubungannya sama Heru? Jadi, rumah Heru ada di ujung gang dekat tempat peyewaan buku ini. Makanya kita rajin banget kesana, minjam komik, balikin komik yang enggak dibaca, hanya berharap melihat Heru ketika dia lewat. Gilakan perjuangan kita, coba ada "pejuang cinta teladan". Padahal peluang melihat Heru juga sangat kecil, kalau kami sedang beruntung, kemungkinan Heru akan kebetulan lewat dengan naik motor, kalau lagi beruntung banget Heru lagi nggak pake helm, padahal dia sama sekali nggak melirik kita. Kalau lagi agak sial mungkin satu dari antara beberapa mobil yang lewat adalah rombongan Heru dengan keluarganya. Kalau lagi sial beneran nggak ada mobil atau motor yang lewat sama sekali. Sepi. Aku selalu kebingungan kenapa Tiara bisa suka sama Heru “sebegitunya”. Aku berusaha mencari tau, sampai akhirnya aku yang “jatuh”sendiri. Jadi aku juga pernah suka sama dia.
Sama seperti Sara, Tiara, mencintai diam-diam juga nggak pernah membuatku “diam”. Setiap hari aku selalu berusaha gimana biar bisa lihat dia. Setiap istirahat, paling hapal kira-kira berapa menit dari bel berbunyi, dia akan terlihat di bawah, dia biasanya ke kantin, beli roti, pepsi dan kembali lagi ke kelas, tuh aku masih hapal banget kan. Dan aku hanya memperhatikan dia diam-diam. Seperti Sara, aku juga tau dia dekat sama siapa, dan aku menebak-nebak kira-kira siapa cewek yang dia suka. Loli sahabatku di kosan, lama-lama jengah juga dengan curhatanku dan dia bilang, “kamu kalo penasaran dia suka sama siapa, sms dia, pake nomor baru.”Akhirnya aku beneran beli kartu baru, tapi nggak norak sih, ya walaupun sekarang, kalau diingat-ingat, tetap aja itu norak, “Heru, aku salah seorang teman sekelas yang suka samamu. Jangan tanya siapa, cuma mau tau , siapa cewek yang paling kau suka di sekolah? Thanks. “ Dan, dia balas dengan satu nama, yang bukan namaku. Waktu itu minggu ujian akhir, semua orang di kosan belajar di kamar, dan aku menangis di kamar. Seolah-olah besoknya hanya simulasi ujian. Ada sms dari mama nanya lagi ngapain kenapa nggak angkat telpon. Ku jawab aja karena aku lagi belajar buat ujian besok. Nggak mungkinkan ku jawab, “aku nangisi anak orang Ma, karna cewek yang dia suka itu ternyata bukan aku.” Bisa-bisa aku nggak disekolahkan lagi. Tapi akhirnya, perasaan itu hilang sendiri. Iseng – iseng aku kabari Tiara tentang Heru, “Aku udah move on kok Wik.” Kalimat yang sama juga dari Sara, dalam hati aku juga mengiyakan hal yang sama. Sahabatku yang lain, Barbie, pernah nanya, “Aku bingung, kenapa kalian bisa galau banget karna cowok? Gimana rasanya galau?, kalau ditanya sekarang mungkin aku bakal balik nanya, “Kamu pernah nggak jatuh cinta?”
Dan pikiran menerawang jauh, mencari jawaban akan pertanyaan yang selama ini sering ada di otak. Apa mungkin seseorang bakal “diam” untuk seseorang atau sesuatu yang dia cinta? Mungkin yang namanya cinta nggak bisa bikin orang “diam”, at least, mereka pasti melakukan sesuatu, sekonyol apa pun kelihatannya. Aku sering nanya ke teman yang di mataku tekun banget memperjuangkan sesuatu. Ada yang rela tidur hanya tiga jam untuk naikin skor Toefl, nulis tiap hari untuk nyelesaiin novel, “bertapa” di kosan, demi nilai ujian yang baik. Mungkin alasannya sama, cinta nggak membuat orang diam, mereka cinta mimpi mereka, mereka cinta tujuan mereka, mereka cinta orang-orang yang dukung mereka, dan cinta seluar biasa itu.

Kamis, 25 Juni 2015

INI BUMI, BUKAN SURGA!!


           Sosmed dengan segala jenisnya udah banyak banget di hidup kita, ya nggak usah deh disebutin jenisnya apa aja. Jadi, ini perasaan yang udah lama banget membatu di otak, sampai akhirnya nulis ini karena ngerasa ganggu banget. Sekitar beberapa bulan yang lalu, aku sering banget kepoin seseorang dari sosial media, sampai semua sosial media saya cari, dan lihat semua postingannya. Dia adalah tipe orang yang suka ngepost di sosmed, sepertinya sih dia selalu punya waktu buat ngambil foto sebelum makan, foto dulu abis dandan, abis olahraga, abis jalan dari mana, edit dan up load di media sosial, sementara aku adalah orang yang selalu punya waktu buat ngikutin segala postingannya dia.
        Mungkin itu terlihat wajar banget ya dan biasa aja (tadinya aku juga ngerasa begitu). Tapi yang terjadi itu, aku nggak ngeliat doang, efeknya adalah aku ngiri. YA. Lumayan lama juga nyari tau aku kenapa, tapi pada akhirnya aku tau dan jujur yang ku rasakan itu iri karena selalu ngebandingin postingannya dia dengan hidupku di dunia nyata. Misalnya liat foto dia lagi jalan, “aku kok disini-sini aja ya”, komentar begituan yang muncul di hati. Liat foto dia lagi bareng pacarnya, “aku kok sama temen melulu ya”, lagi-lagi komentarku, dan etc. Jujur, perasaan ini ganggu banget. Terus aku mulai mikir, KOK AKU GINI BANGET YA? Dan lama-lama, nggak dia doang yang aku bandingin, liat orang nikah aku galau jodoh, liat orang dapet kerjaan bagus, aku galau kerjaan, liat orang makan di tempat beken, aku galau kenapa aku ga makan bareng juga disini.

              Kalau aku cerita ke orang aku iri, dia pasti bilang “Dosa banget Lo, bersyukur!”, ya aku juga ngerti sih, kalau jujur soal perasaan negatif itu, di budaya kita dianggap tabu. Kadang, jujur ke Tuhan malah lebih manusiawi. Dia nggak bakal kaget sih kalo kita ngaku iri. Orang dari zaman dulu banget cerita tentang iri hati udah banyak banget, Habel dibunuh sama Kain, Yusuf dijual saudara-saudaranya, Raja Saul pengen banget membunuh Daud. Aku jadi tiba-tiba mikir, sia-sia banget skripsi aku dulu ngomongin tentang ‘penerimaan diri’, ternyata yang nulis aja kayak begini. 

              Dan aku tiba-tiba ingat, dulu waktu aku mau ke Singapura, kan ke Medan dulu dan aku bawa net bookku. Karena ribet bawa net book itu, soalnya aku masih mau ke Jakarta dulu. Jadi net booknya aku titipin sama seorang sahabat di Medan, resiko banget sih nitipin barang yang satu ini, karena semua curhatan aku, aku tulis disana. Dan, aku nggak pernah sama sekali minjamin netbook itu sama teman. Tapi karena kali ini memang, nggak bisa nggak, ya udah pasrah. Tapi aku percaya banget kok sama sahabat yang satu ini. Waktu aku dari Medan ke rumah dan buka file di net bookku, aku lihat curhatanku dan dia komen panjang di bawah catatan yang aku tulis. Kata-katanya ga persis begini banget sih, tapi jadinya aku interpretasi sendiri, habisnya mau nyalin teks aslinya, net booknya masih sama dia.

              Ibarat anak sekolah kamu itu seperti seorang siswa dalam kelas yang lagi disuruh guru ngerjain ujian. Si guru nulis lima soal di papan tulis dan kamu disuruh nyelesaiin soal itu. Tapi Kamu bukannya ngerjain, Kamu liatin semua orang di kelas dan komentar, “si A penanya bagus banget, kok pena aku nggak sebagus dia ya.”, “Si B, bukunya keren, kok buku aku nggak sekeren dia ya?”, dan gitu aja terus sampai pada akhirnya kamu memang beneran nggak ngelakuin apa-apa dan wajar aja nggak menghasilkan apa-apa juga. “ Lalu kamu mau nyalahin Tuhan? Bukannya Tuhan itu udah baik banget ya sama kamu. Dia ngasi semua yang kamu butuh? Tapi kamu itu ibarat anak kecil, minta satu mainan, mainan yang itu belum dibuka, udah minta mainan lain lagi, dan ketika nggak dikasi kamu ngambek sendiri, dimana dewasanya?  Kamu ngeliatin orang yang main-mainin mainannya dan Kamu cemburu, sementara kamu sendiri nggak mau membuka kotak hadiah yang kamu punya. Aku capek sih sebenarnya ngomongin ini ke kamu, yang pasti menurut aku, kali aja Tuhan ngeliat Kamu seperti ini dia pasti ngelus-ngelus dada dan yang pasti sedih banget. Karena kamu punya segala sesuatu yang potensial, yang akan luar biasa kalo aja kamu pake. Jadi, please be mature! Stop comparing your life, just enjoy your life dan perjuangkan!

        Sampai akhirnya dapat bbm teman, subuh-subuh, “Aku ngerasa hidup aku tuh gagal banget dan orang-orang lain itu beruntung banget,”aku cuma bisa senyum. Karena aku juga, baru aja ngerasain itu. Dan akhirnya, kita berdua begadang sampai pagi, ngomongin tentang iri hati ini. Sampai pada sebuah kesimpulan yang kita sepakati. Sebenarnya sosial media ini banyak memberikan kemudahan sih. Sosial media bisa membuat kita tau tentang kehidupan orang lain. Bukan untuk dibandingin, karna so klise kalau aku harus bilang, bakal selalu ada orang yang lebih dan kurang darimu. Kita sepakat kalau hidup kita terlalu “berharga”, jadi nggak bisa dibanding-bandingin. Hidup itu kompetisi dengan diri sendiri, bukan orang lain. Tentang segala macem postingan di sosial media, itu haknya dia mau memposting tentang apa pun. Selama nggak menentang norma.Dan terserah kita juga mau mikir apa tentang postingan itu. Hanya Tuhan dan dia yang tau motivasinya dia, kita cuma bisa menebak. Kita nggak berhak menjudge apa pun tentang itu, karena kita juga nggak tau apa-apa, atau jangan-jangan malah kita yang sedang sirik. 

        Pintar-pintar aja sih menjadikan itu semua motivasi, diatas segala hal baik yang terjadi dalam hidup orang lain. Jangan lupa, ini bumi tempat segala sesuatu yang baik harus diperjuangkan. Ini bumi, bukan surga tempat segala sesuatu berjalan dengan sempurna.  Yakinlah di dunia ini semua orang pasti punya masalahnya sendiri, hanya saja mungkin ga sama dengan masalah kita.