Minggu, 28 Juni 2015

KARENA CINTA NGGAK BISA "DIAM"



“Dulu, aku nggak suka banget samamu Wik.” Sara memulai percakapan, “Sekarang jadi suka apa makin nggak suka?”Aku tertawa, padahal sebenarnya penasaran juga, dan akhirnya nanya kenapa. Otak memutar kenangan sekitar beberapa tahun yang lalu, udah lama banget sih. Tentang seorang cowok yang dengan berat hati ku akui dia memang menarik, namanya Heru, tentu saja nama yang ku samarkan untuk mengurangi jumlah cewek yang suka sama dia. Dari zaman kami masih SMA, sudah banyak cewek yang suka sama dia, bahkan saat itu waktu kami sama-sama kuliah. Kebanyakan cewek suka sama cowok yang jago main musik, kemampuan bermusik Heru hebat. Dia tipe yang cuek dan jadi makin bikin orang super penasaran.
Aku dekat dengan Heru, karena kami dari satu SMA dan mungkin karena “omongannya yang kasar” buat orang kebanyakan, selalu lucu buatku. Waktu itu aku minum es the manis dengan ayam penyet super pedas, menu favoritku di asrama. Lagi “me time” banget, tiba-tiba segerombolan cewek datang, ngedekatin aku dan tanpa pembukaan langsung nanya, “Wik, kau pacaran ya sama Heru?”, Awalnya sih kaget, dan respon berikutnya adalah iseng. “Eh, tau darimana? Iya.“ jawabku dengan senyum sumringah, mungkin mereka merasa aku tersenyum karena bahagia dengan status “pacarnya Heru”. Bukan, ini bukan sinetron, dimana kemungkinan adegan selanjutnya, mereka membuang es teh manis ke mukaku, atau mengolesi cabe ayam penyet ke mataku, oh itu G30SPKI ya, maafkan, aku mulai berlebihan. Mereka pun berlalu setelah salah seorang dari mereka ngomong, “Nggak apa-apa, nanya aja.” Aku ketawa sambil mataku mengikuti langkah mereka dari belakang.
Sebenarnya hari itu juga aku janjian makan bareng sama Heru, tapi karena udah lapar banget, aku mesan makan duluan. Dan akhirnya Heru datang, aku senyum-senyum. “Ada yang nembak kau Wik? Sok bahagia kali hidupmu!”, aku bilang ke dia,“Eh, kalau siapa pun nanya samamu kita pacaran apa nggak, bilang iya aja ya.”Aku mengaku dosa pada Heru, termasuk kejadian barusan, dan jawabannya, “Idiot kali kau Wik!”aku malah ngakak. Dia ngomongnya memang kasar, tapi aku suka. Dia bukan orang pada umumnya. Pernah kita mau minjam leptopnya, “Heru pinjam leptop dong.”dan jawabannya adalah, “Nggak bisa, aku mau pake main game.” Biasanya orang pasti bikin alasan yang agak baguskan, “Eh, maaf aku lagi ngerjain tugas deadline.” atau,“Eh, leptopku lagi dipinjam sama temen juga, maaf ya.” Tapi dia bukan orang yang seperti itu. Mungkin itu juga yang membuat Heru semakin ditaksir cewek.
Sara mendengarkan ceritaku dengan konsentrasi penuh, “Jadi itu bohongan Wik?”aku hanya tertawa. “Padahal aku sering banget nangis karena dia. Kami sering ngomongin kau, gara-gara dia, maaf ya.” Karena Heru punya banyak pemuja rahasia, aku punya banyak penghujat rahasia. Dalam hati aku menjawab, bukan cuma dia sebenarnya. Dulu Tiara, sahabatku waktu SMA juga suka sama Heru. Sampai hampir setiap sore aku diajakin sahabatku ini ke tempat penyewaan buku komik, apa hubungannya sama Heru? Jadi, rumah Heru ada di ujung gang dekat tempat peyewaan buku ini. Makanya kita rajin banget kesana, minjam komik, balikin komik yang enggak dibaca, hanya berharap melihat Heru ketika dia lewat. Gilakan perjuangan kita, coba ada "pejuang cinta teladan". Padahal peluang melihat Heru juga sangat kecil, kalau kami sedang beruntung, kemungkinan Heru akan kebetulan lewat dengan naik motor, kalau lagi beruntung banget Heru lagi nggak pake helm, padahal dia sama sekali nggak melirik kita. Kalau lagi agak sial mungkin satu dari antara beberapa mobil yang lewat adalah rombongan Heru dengan keluarganya. Kalau lagi sial beneran nggak ada mobil atau motor yang lewat sama sekali. Sepi. Aku selalu kebingungan kenapa Tiara bisa suka sama Heru “sebegitunya”. Aku berusaha mencari tau, sampai akhirnya aku yang “jatuh”sendiri. Jadi aku juga pernah suka sama dia.
Sama seperti Sara, Tiara, mencintai diam-diam juga nggak pernah membuatku “diam”. Setiap hari aku selalu berusaha gimana biar bisa lihat dia. Setiap istirahat, paling hapal kira-kira berapa menit dari bel berbunyi, dia akan terlihat di bawah, dia biasanya ke kantin, beli roti, pepsi dan kembali lagi ke kelas, tuh aku masih hapal banget kan. Dan aku hanya memperhatikan dia diam-diam. Seperti Sara, aku juga tau dia dekat sama siapa, dan aku menebak-nebak kira-kira siapa cewek yang dia suka. Loli sahabatku di kosan, lama-lama jengah juga dengan curhatanku dan dia bilang, “kamu kalo penasaran dia suka sama siapa, sms dia, pake nomor baru.”Akhirnya aku beneran beli kartu baru, tapi nggak norak sih, ya walaupun sekarang, kalau diingat-ingat, tetap aja itu norak, “Heru, aku salah seorang teman sekelas yang suka samamu. Jangan tanya siapa, cuma mau tau , siapa cewek yang paling kau suka di sekolah? Thanks. “ Dan, dia balas dengan satu nama, yang bukan namaku. Waktu itu minggu ujian akhir, semua orang di kosan belajar di kamar, dan aku menangis di kamar. Seolah-olah besoknya hanya simulasi ujian. Ada sms dari mama nanya lagi ngapain kenapa nggak angkat telpon. Ku jawab aja karena aku lagi belajar buat ujian besok. Nggak mungkinkan ku jawab, “aku nangisi anak orang Ma, karna cewek yang dia suka itu ternyata bukan aku.” Bisa-bisa aku nggak disekolahkan lagi. Tapi akhirnya, perasaan itu hilang sendiri. Iseng – iseng aku kabari Tiara tentang Heru, “Aku udah move on kok Wik.” Kalimat yang sama juga dari Sara, dalam hati aku juga mengiyakan hal yang sama. Sahabatku yang lain, Barbie, pernah nanya, “Aku bingung, kenapa kalian bisa galau banget karna cowok? Gimana rasanya galau?, kalau ditanya sekarang mungkin aku bakal balik nanya, “Kamu pernah nggak jatuh cinta?”
Dan pikiran menerawang jauh, mencari jawaban akan pertanyaan yang selama ini sering ada di otak. Apa mungkin seseorang bakal “diam” untuk seseorang atau sesuatu yang dia cinta? Mungkin yang namanya cinta nggak bisa bikin orang “diam”, at least, mereka pasti melakukan sesuatu, sekonyol apa pun kelihatannya. Aku sering nanya ke teman yang di mataku tekun banget memperjuangkan sesuatu. Ada yang rela tidur hanya tiga jam untuk naikin skor Toefl, nulis tiap hari untuk nyelesaiin novel, “bertapa” di kosan, demi nilai ujian yang baik. Mungkin alasannya sama, cinta nggak membuat orang diam, mereka cinta mimpi mereka, mereka cinta tujuan mereka, mereka cinta orang-orang yang dukung mereka, dan cinta seluar biasa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar