“Dulu,
aku nggak suka banget samamu Wik.” Sara memulai percakapan, “Sekarang jadi suka
apa makin nggak suka?”Aku tertawa, padahal sebenarnya penasaran juga, dan akhirnya nanya kenapa. Otak memutar
kenangan sekitar beberapa tahun yang lalu, udah lama banget sih. Tentang
seorang cowok yang dengan berat hati ku akui dia memang menarik, namanya Heru,
tentu saja nama yang ku samarkan untuk mengurangi jumlah cewek yang suka sama
dia. Dari zaman kami masih SMA, sudah banyak cewek yang suka sama dia, bahkan
saat itu waktu kami sama-sama kuliah. Kebanyakan cewek suka sama cowok yang
jago main musik, kemampuan bermusik Heru hebat. Dia tipe yang cuek dan jadi
makin bikin orang super penasaran.
Aku
dekat dengan Heru, karena kami dari satu SMA dan mungkin karena “omongannya yang
kasar” buat orang kebanyakan, selalu lucu buatku. Waktu itu aku minum es the manis
dengan ayam penyet super pedas, menu favoritku di asrama. Lagi “me time”
banget, tiba-tiba segerombolan cewek datang, ngedekatin aku dan tanpa pembukaan
langsung nanya, “Wik, kau pacaran ya sama Heru?”, Awalnya sih kaget,
dan respon berikutnya adalah iseng. “Eh, tau darimana? Iya.“ jawabku dengan
senyum sumringah, mungkin mereka merasa aku tersenyum karena bahagia dengan status
“pacarnya Heru”. Bukan, ini bukan sinetron, dimana kemungkinan adegan
selanjutnya, mereka membuang es teh manis ke mukaku, atau mengolesi cabe ayam
penyet ke mataku, oh itu G30SPKI ya, maafkan, aku mulai berlebihan. Mereka pun
berlalu setelah salah seorang dari mereka ngomong, “Nggak apa-apa, nanya aja.”
Aku ketawa sambil mataku mengikuti langkah mereka dari belakang.
Sebenarnya
hari itu juga aku janjian makan bareng sama Heru, tapi karena udah lapar
banget, aku mesan makan duluan. Dan akhirnya Heru datang, aku senyum-senyum.
“Ada yang nembak kau Wik? Sok bahagia kali hidupmu!”, aku bilang ke dia,“Eh,
kalau siapa pun nanya samamu kita pacaran apa nggak, bilang iya aja ya.”Aku
mengaku dosa pada Heru, termasuk kejadian barusan, dan jawabannya, “Idiot kali kau
Wik!”aku malah ngakak. Dia ngomongnya memang kasar, tapi aku suka. Dia bukan
orang pada umumnya. Pernah kita mau minjam leptopnya, “Heru pinjam leptop
dong.”dan jawabannya adalah, “Nggak bisa, aku mau pake main game.” Biasanya orang pasti bikin alasan yang agak baguskan, “Eh, maaf aku lagi ngerjain
tugas deadline.” atau,“Eh, leptopku lagi dipinjam sama temen juga, maaf ya.”
Tapi dia bukan orang yang seperti itu. Mungkin itu juga yang membuat Heru
semakin ditaksir cewek.
Sara
mendengarkan ceritaku dengan konsentrasi penuh, “Jadi itu bohongan Wik?”aku
hanya tertawa. “Padahal aku sering banget nangis karena dia. Kami sering
ngomongin kau, gara-gara dia, maaf ya.” Karena Heru punya banyak pemuja
rahasia, aku punya banyak penghujat rahasia. Dalam hati aku menjawab, bukan
cuma dia sebenarnya. Dulu Tiara, sahabatku waktu SMA juga suka sama Heru. Sampai hampir setiap sore aku diajakin sahabatku ini ke tempat penyewaan buku
komik, apa hubungannya sama Heru? Jadi, rumah Heru ada di ujung gang dekat
tempat peyewaan buku ini. Makanya kita rajin banget kesana, minjam komik,
balikin komik yang enggak dibaca, hanya berharap melihat Heru ketika dia lewat. Gilakan perjuangan kita, coba ada "pejuang cinta teladan". Padahal peluang melihat Heru juga sangat kecil, kalau
kami sedang beruntung, kemungkinan Heru akan kebetulan lewat dengan naik motor,
kalau lagi beruntung banget Heru lagi nggak pake helm, padahal dia sama sekali
nggak melirik kita. Kalau lagi agak sial mungkin satu dari antara beberapa
mobil yang lewat adalah rombongan Heru dengan keluarganya. Kalau lagi sial
beneran nggak ada mobil atau motor yang lewat sama sekali. Sepi. Aku selalu
kebingungan kenapa Tiara bisa suka sama Heru “sebegitunya”. Aku berusaha
mencari tau, sampai akhirnya aku yang “jatuh”sendiri. Jadi aku juga pernah suka
sama dia.
Sama
seperti Sara, Tiara, mencintai diam-diam juga nggak pernah membuatku “diam”.
Setiap hari aku selalu berusaha gimana biar bisa lihat dia. Setiap istirahat,
paling hapal kira-kira berapa menit dari bel berbunyi, dia akan terlihat di
bawah, dia biasanya ke kantin, beli roti, pepsi dan kembali lagi ke kelas, tuh
aku masih hapal banget kan. Dan aku hanya memperhatikan dia diam-diam. Seperti
Sara, aku juga tau dia dekat sama siapa, dan aku menebak-nebak kira-kira siapa
cewek yang dia suka. Loli sahabatku di kosan, lama-lama jengah juga dengan
curhatanku dan dia bilang, “kamu kalo penasaran dia suka sama siapa, sms dia,
pake nomor baru.”Akhirnya aku beneran beli kartu baru, tapi nggak norak sih, ya
walaupun sekarang, kalau diingat-ingat, tetap aja itu norak, “Heru, aku
salah seorang teman sekelas yang suka samamu. Jangan tanya siapa, cuma mau tau
, siapa cewek yang paling kau suka di sekolah? Thanks. “ Dan, dia balas
dengan satu nama, yang bukan namaku. Waktu itu minggu ujian akhir, semua orang
di kosan belajar di kamar, dan aku menangis di kamar. Seolah-olah besoknya
hanya simulasi ujian. Ada sms dari mama nanya lagi ngapain kenapa nggak angkat
telpon. Ku jawab aja karena aku lagi belajar buat ujian besok. Nggak mungkinkan
ku jawab, “aku nangisi anak orang Ma, karna cewek yang dia suka itu ternyata
bukan aku.” Bisa-bisa aku nggak disekolahkan lagi. Tapi akhirnya, perasaan itu
hilang sendiri. Iseng – iseng aku kabari Tiara tentang Heru, “Aku udah move on
kok Wik.” Kalimat yang sama juga dari Sara, dalam hati aku juga mengiyakan hal
yang sama. Sahabatku yang lain, Barbie, pernah nanya, “Aku
bingung, kenapa kalian bisa galau banget karna cowok? Gimana rasanya galau?,
kalau ditanya sekarang mungkin aku bakal balik nanya, “Kamu pernah nggak jatuh
cinta?”
Dan
pikiran menerawang jauh, mencari jawaban akan pertanyaan yang selama ini sering
ada di otak. Apa mungkin seseorang bakal “diam” untuk seseorang atau sesuatu
yang dia cinta? Mungkin yang namanya cinta nggak bisa bikin orang “diam”, at
least, mereka pasti melakukan sesuatu, sekonyol apa pun kelihatannya. Aku sering nanya ke teman yang di mataku tekun
banget memperjuangkan sesuatu. Ada yang rela tidur hanya tiga jam untuk naikin
skor Toefl, nulis tiap hari untuk nyelesaiin novel, “bertapa” di kosan, demi
nilai ujian yang baik. Mungkin alasannya sama, cinta nggak membuat orang diam,
mereka cinta mimpi mereka, mereka cinta tujuan mereka, mereka cinta orang-orang
yang dukung mereka, dan cinta seluar biasa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar